Cholis
  • Home
  • Blog
    • Desa
    • Warga
    • Wisata
    • Politik
    • Resensi
  • Tentang

Home Warga Refleksi Pendidikan Indonesia

Refleksi Pendidikan Indonesia

Cholis May 01, 2015 0

IMG_20150226_063403

Selamat pagi sahabatku, guru menjadi pondasi keberhasilan pendidikan di Sekolah. Guru yang baik akan menjadikan siswanya baik, demikian juga guru yang berkualitas dan profesional akan menghasilkan siswa demikian.

Ada istilah "guru kencing berdiri, murid kenceng berlari" "guru kencing berlari, murid kencing acak-acakan"

Begitu sentralnya peran guru dalam membentuk karakter. Saudaraku, kita bisa menjadi guru dimana saja. Namun, tidak dengan menjadi guru PNS. Tidak sedikit guru-guru yang menjadi PNS melakukan hal yang tidak baik, namun saya yakin masih banyak yang mempunyai idealis. Jika saja guru melakukan hal yang kurang wajar untuk menjadi pegawai negeri bisa saja karena keadaan atau karena karakter orang tersebut dan mungkin juga sistemnya demikian.

Tentu ini suatu masalah yang hendak diselesaikan bersama. Niat di singkronkan dengan aplikasi merupakan kunci utama. Bukan masalah secuil biji mahoni atau sesempit daun kelor.

Indonesia, negeri bahari, ribuan Pulau, yang Memiliki keterbatasan penyamarataan fasilitas dan kualitas guru di pulau-pulau perbatasan atau wilayah tertinggal. Seperti dikisahkan dalam Film "Tanah Surga Katanya" mengisahkan pendidikan di perbatasan Kalimantan dan Malaysia yang memiliki ketimpangan.

Memasuki bulan April dan Mei, pendidikan Indonesia disibukan dengan Ujian Nasional, Ujian untuk menentukan kualitas murid, mengevaluasi dari pertama masuk hingga hendak keluar.

Menjelang Ujian Nasional, tentunya bukan rahasia umum bahwa dalam pelaksanaan banyak kecurang. Mereka yang melakukan tidak sedikit dari oknum guru, seperti kisah Abrar dengan Bundanya Winda Lubis yang menuntut sekolah untuk meminta maaf karena sudah mengajarkan kecurangan yang dikisahkan dalam Film Documenter "Temani Aku Bunda"

Namun, masih banyak dari guru-guru yang mempunya idealis tinggi untuk menghilangkan kecurangan justru di Intimidasi oleh teman satu profesi yang ingin meluluskan siswanya dengan cara apapun. Seperti sudah menjadi stigma yang tidak bisa dihilangkan bahwa sekolah yang lulus UN 100% pasti proses belajarnya baik. Padahal dalam kenyataannya belum tentu demikian.

Saudaraku, jika kita melihat pendidikan Finlandia yang menjadi sistem pendidikan terbaik di Dunia justru tidak menggunakan Ujian Nasional sebagai syarat kelulusan, (koreksi jika saya salah). Saya mengutip pernyataan Menteri Anies Baswedan di Twitter bahwa Finlandia mengacu pada konsep pendidikan ala "Ki Hajar Dewantara" Bapak pendidikan kita, Indonesia.

Saudaraku yang budiman. Pembenahan Indonesia menjadi lebih baik di segala aspek dimulai dari Pendidikan, mengutip pernyataan Nelson Mandela mantan Presidan Afrika Selatan beliau berujar bahwa "Pendidikan cara ampuh untuk mengentaskan kemiskinan" kurang lebihya seperti itu. Jika kita singkronkan dengan pernyataan Pramoedya Ananta Toer dalam bumi manusia "Semakin tinggi sekolah jangan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain" begitu indah kedua pemikiran itu dikolaborasikan di aksi nyata.

Solusi ditawarkan di era sekarang kebijakan baru dalam Ujian Nasional. UN tidak lagi sebagai penentu kelulusan presentasenya besar 10% hanya dari UN. Sekolah diberikan otoritas penuh untuk meluluskan siswa.

Meski demikian, paradigma UN adalah segalanya masih menyemat di benak murid maupun guru, hingga kecurangan-kecurangan sangat masif dilakukan. Hingga saat ini. Seolah menjadi ladang bisnis yang menggiurkan dan menguntungkan, meski masa depan anak-anak adalah taruhannya.

Sekolah, seperti yang dicita-citakan Ki Hajar Dewantoro adalah TaMan Bermain, taman yang menyenangkan, taman dimana bisa belajar dengan asyik, enjoy, dan refleks. Taman yang bisa menumbuhkan karakter-karakter sang generasi. Cita-cita itu nampaknya belum dirasakan oleh murid-murid. Dimana mereka dicekoki pelajaran yang mereka tidak suka, tidak passion dan dipaksakan untuk bisa.

Analoginya, Ikan, gajah, burung, dan semua hewan diajarkan untuk bisa memanjat pohon. Atau anak A dia berminat di pelajaran Biologi, ketika anak itu nilai Fisikanya jeblok Mata pelajaran yang ia kuasai, pasti yang di les-kan yang dibimbelkan mata pelajaran Fisika. Bukan mengasah mapel Biologi. Didunia kerjapun seseorang menguasai satu bidang untuk fokus.

Saudaraku, pemerintah, sistem, guru, orangtua murid, dan murid itu sendiri berperan penuh untuk mengaplikasikan pendidikan Indoneaia lebih baik. 20% dari APBN dan APBD untuk pendidikan menuai banyak dukungan untuk mengentaskan kemiskinan, meningkatkan SDM untuk manusia Indonesia.

Semoga apa yang hendak dicapai bersama bisa mudah untuk dilakukan. Mudah untuk dilaksanakan, mudah untuk diamalkan.
Tags: Warga
Share:

Post a Comment

Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments ( Atom )
Designed by OddThemes

Sekilas

Dari Kampung, Ingin Belajar

Tertarik di kebudayaan, sosial, lingkungan dan pemberdayaan.

Kanal Saya

Powered by Blogger.