PERISTIWA GEGER CILEGON
- Beberapa Peristiwa yang Mendahului Geger Cilegon
Tokoh yang menentukan dalam peristiwa geger cilegon ini adalah KH.Wasyid, yang pernah belajar di makkah pada syekh nawawi al-bantani, mengajar di pesantrennya di kampong beji cilegon, tiga pokok ajaran yang di sebarkan kepada muridnya adalah tentang tauhid,fiqih dan tasawuf merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam ajaran islam dan harus di peraktekan dalam kegiatan sehari-hari.Bersama kawan seperjuangnya H.Abdurrahman,H.Akib,H.Haris,H.Arsad thawil,H.Arsad Qashir, dan H.Ismail.
Antara tahun 1882 dan 1884 kepada rakyat banten khususnya di serang dan di anyer ditimpa dua malapetaka: kelaparan dan penyakit samapai binatang ternak.
Kesedihan yang mendalam itu di tambah lagi dengan meletusnya gunung krakatau di selat sunda ( tanggal 23 agustus 1883 ). Yang yang menimbulkan gelombang laut setinggi 30 meter, melanda pantai barat banten, menghancurkan anyer, merak, caringin serta desa-desa sirih, pasuruan tajur dan carita. Kesemuanya merengguk korban kurang lebih 21.500 jiwa tenggelam di sapu gelombang.
Musibah yang datang bertubi-tubi menimpa rakyat banten dengan sendirinya membawa dampak luas, tidak hanya di bidang social politik dan kehidupan keagamaan. Meskipun kehidupan ekonomi dapat segera di pulihkan beberapa tahun kemudian, namun suasana di kalangan rakyat penuh kegelisahan dan keresahan.
Sementara itu, pihak kolonial melaksanakan system perpajakan yang baru, sehubungan dengan penghapusan berbagai kerja wajib, seperti kerja pancen dan kerja rodi. Dalam keadaan yang sangat menydihkan itu, pengenaan, pertanggungan pajak di luar kewajaran, semakin menambah penderitaan rakyat.
Dalam keadaan penderitaan arakyat yang bertumpuk ini, banyak di antara mereka yang lari ke klenik ( tahayul ). Mereka lebih mempercayai dukun atau benda-benda yang di anggap keramat daripada memohon pertolongan kepada Allah SWT. Tersebutlah di desa lebak kelapa terdapat sebatang pohon kepuh besar yang oleh sebagian penduduk dianggap keramat, dapat menunahkan bela bencana dan meluluskan apa yang di minta asal saja memberikan sesajen bagi jin penunggu pohon itu.
Berkali-kali KH.Wasyid memperingatkan penduduk, tapi penduduk masi saja menyambah pohon kepuh tersebut. Dengan beberapa muridnya di di tebangnya pohon itu pada malam hari. Keadaan inilah yang membawa KH.Wasyid kedepan pengadilan kolonial pada tanggal 18 november 1887, ia di persalahkan melanggar hak orang lain sehingga di kenakan denda 7.50 golden ( Hamka, 1982:144).
Satu hal lagi yang ikut menyulut api perlawanan ini adalah di robohkanya menara langgar ( Musholla ) di jombang tengah atas perintah asisten nresiden goebles.
Factor-faktor ketidak puasan terhadap system ekonomi, politik dan budaya yang di paksakan pemerintah kolonial belanda ini membaur dengan
penderitaan rakyat yang sudah tidak tertakarkan menumbuhkan perlawanan bersenjata.
- Jalanya pemberontakan
Secara kronologis, persiapan-persiapan menuju pemberontakan di cilegon dapat di urutkan sebagai berikut :
- 4 pebruari – 13 maret 1888, di adakan tiga kali pertemuan di rumah H.marjuki di tanara di hadiri oleh para ulama dari serang, anyer dan tangerang, yang kedua d I terate bertempat di kediaman H.Asnawi di hadiri oleh pemuka masyarakat dari serang dan anyer sedangkan pertemuan selanjutnya di rumah H.Ishak di seneja.
- Maret-April 1888 pertemuan di kediaman KH.Wasyid di beji, kemudian di rumah H.M Sadeli di kaloran dan berikutnya di rumah H.Marjuki di tenara, akhirnya kembali pertemuan di adakan di kediaman KH.Wasyhid.
- 23 juni 1888 pertemuan terakhir, hadir para tokoh/ulama seperti H.Marjuki,KH.Wayhid dan H.Ismail serta H. Ishak. Di duga dalam pertemuan tersebut di bicarakan masalah kesediaan alat persenjataan, pembagian tugas, penggerakan pengikut, serta penyelenggaraan latihan antara lain pencak silat.
- kansidenasi sejarah pada pematangan situasi tersebut antara lain
(a) akhir juni berlangsung perlehatan besar yakni perkawinan antara putra bupati pandeglang dan putri bupati serang, di mana banyak hadir para pejabat.
(b) awal juli residen banten,asisten residen anyar di sertai bawahan eropa dan pribumi melakukan inspeksi di afdeling anyer.
(c) adanya desas desus munculnya naga besar pertanda akan datangnya musibah di kalangan penduduk.
(d) dalam waktu dekat KH Wasyhid akan di panggil kepengadilan untuk penyelesaian suatu perkara.
(e) beredarnya desas-desus larangan berdo’a dzikir pesta dengan gamelan, tayuban, pesta kawinan dan khitanan.
Pada hari sabtu tanggal 7 juli 1888, di adakanlah pertemuan para kiyai untuk persiapan terakhir/penantangan gerakan, di kediaman H.askin di jombang wetan, hadir dalam pertemuan itu antara lain Madani dari ciora,H.Halim dari cibeber,H.mahmud arsya dan ( penghulu kepala di serang ) dan H.Tubagus Kusen ( penghulu di cilegon ).
Malam itu juga, dari seneja, H Tubagus ismail memimpin pengikut-pengikutnya dari arjawinangun, gulacir dan cibeber bergerak menuju cilegon untuk menyerang para pejabat kolonial. Pada hari senin malam tanggal 9 juli 1888 di adakanlah serangan umum ke cilegon. H. Tubagus ismail dan H.Usman dari Arjawinangun dan pengikutnya menyerang dari arah selatan, sedangkan pasukan yang dipimpin oleh KH.Wasyhid KH.Usman dari Tunggak , H.Abdul gain dari beji, dan H.Nuraeiman dari kaligandu menyerang dari arah utara.
Dengan memekikan kalimat takbir mereka menyerbu beberapa tempat di cilegon. Pasukan di bagi dalam beberapa kelompok; kelompok pertama di pimpin oleh lurah jasmine, jaro kajuruan, menyerbu penjara untuk membebaskan para tahanan, kelompok kedua dipimpin oleh H.Abdulgani dari beji dan H.Usman dari arjawinangun menyerbu kepatihan, dan kelompok ketiga di pimpin oleh KH.Tubagsu Ismail dan H.sman dari tunggak menyerbu rumah asisten residen. Sedangkan KH.Wasyhid dengan beberapa pengawalnya tetap di jombang wetan memonitor segala kegiatan penyerbuan (Kartodirdjo 1984:301-303).
Dalam keadaan yang kacau itu Henri Francois Dumas, juru tulis di kantor residen, dapat di bunuh oleh H.Tubagus Ismail dan, demikian juga raden purwadiningrat, ajun kolektor, johan hendrick Hubert gubels, asisten residen anyer, Mas kramadireja sipir penjara cilegon dan ulric bachet, kepala penjualan garam semua adalah orang-orang yang tidak di senangi rakyat. Sedangkan patih raden pennah, seorang pegawai negeri yang kebelanda belandaan lolos dari kematian, karena dia sedang di serang waktu itu. Tokoh fenomena yang menjadi seorang korban adalahRaden Tjakradiningrat, wedana cilegon yang menurut PPA. Djajadiningrat “tempat kediamanya tidak di dekat-dekat orang eropah atau di dekat-dekat ambtenar-ambtenar boemiputra lain” (1936:55). Sehingga ia termasuk “orang yang tidak berdosa” (1936:56)
Seperti yang sudah direncanakan semula, bebarengan dengan kejadian di cilegon ini, di beberapa tempat juga meletus pemberontakan, seperti di bojonegara, Balagendung, Krapyak, Grogol, Mancak dan Toyomerto. Di daerah serang. Pemberontakan di pimpin oleh KH.asyik, seorang ulama dari bendung, H. Muhamad Hanaffiah dari trumbu dan H.Muhidin dari Cipecung. Pusat-pusat kegiatan mereka ialah bendung, trumbu, kubang, kaloran, dan keganteran.
Sehari semalam kekacauan tidak dapat di atasi, Cilegon dapat di kuasai sepenuhnya oleh pasukan “pemberontak”. Tetapi seorang babu ( Pembantu rumah tanga ) gubbel dapat melarikan diri ke serang membawa kabar kejadian di cilegon itu. Maka bupati bersama kontrolir dengan 40 orang serdadu yang dipimpin oleh Letnan I Bartlemy berangkat ke cilegon. Terjadilah pertempuran hebat antara para pemberontak dengan pasukan kolonial yang memang sudah terlatih baik, sehingga akhirnya kerusuhan dapat di padamkan. KH wasyhid sebagai pemimpin pemberontakan di hukum gantung, sedangkan yang lainya di hukum buang, H. Abdurrahman dan H. Akib di buang ke banda, H. Haris di buang ke bukit, H.Qashir di buang ke button, H.Ismail di buang ke Flores, dan banyak lagi lainya di buang ke tonando, ternate, kupang, menado, ambon, dan sapura – semua pimpinan pemberontak ini ada 94 orang.
Kejadian “Geger Cilegon” itu mempunyai arti penting dalam sejarah pergerakan nasional, karena setelah kejadian itu belanda menginstrukikan supaya semua peraturan-peraturan yang akan di keluarkan hendaknya jangan menyinggung perasaan ke agamaan rakyat jajahan. Walaupun akhirnya pemberontak itu mengalami kegagalan secara fisik, namun sangat bermakna sebagai sebuah gambaran dari rasa ketidakpuasan dan kebencian seluruh rakyat terhadap penjajah.
Rakyat kebetulan tidak memiliki pemimpin formal untuk menyalurkan aspirasinya sehingga untuk menyalurkanya di serahkan kepada kepada pemimpin kharismatik yakni para kiyai dan ulama. Dalam tahun-tahun berikutnya, bekas dan akibat pemberontakan cilegon ini cukup mendalam di kedua belah pihak. Rakyat banten sangat benci kepada penjajah belanda dan pamongpraja yang menjadi kaki tangannya; sebaiknya pihak penjajah juga menaruh kewaspadaan tinggi untuk daerah banten dengan rakyatnya yang sangat militant itu,.
Banyaknya pemberontak rakyat yang di pimpin para ulama islam ini erat juga kaitannya dengan politik keagamaan yang di terapkan kaum penjajah. Di samping mereka terlalu mengeksploirtir tanah jajahan tanpa di batasi rasa kemanusiaan, juga pemerintah kolonial “merambah” dalam kehidupan keagamaan masyarakat; maslah yang di anggap paling mendasar dalam kehidupan manusia. Hal ini tidak lepas dari motivasi pertama pengembaraan orang-orang eropa, selain mencari keuntungan perdagangan juga dilandasi oleh rasa benci dan permusuhan kepada orang-orang islam. Sehingga dapat dikatakan bahwa ekspansi portugis harus di lihat sebagai kelanjutan dari perang salib. VOC, sebagai perusahaan dagang milik belanda pun tidak lepas dari tugas penghancuran umat islam dan penyebaran agama Kristen kepada penduduk di nusantara (Suminto, 1985: 17) – keadaan demikian masih terlihat pada abad ke-19 dan ke-20, melalui beberapa peraturan dan pelaksanan yang di buat pemerintah hindia-belanda. Partai-partai di parlemen belanda dapat di kelompokan kepada partai agama dan non agama. Kedua golongan ini saling merebut mempengaruhi semua keputusan parlemen, yang selanjutnya di laksanakan pemerintah belanda. Pada dasawarsa terakhir pada abad ke-19 kelompok non agama memperoleh kemenangan dalam parlemen. Namun pada peralihan pada abad ke-20 kemenangan beralih kepada kelompok agama. Dengan keadaan pemerintah hindia-Belanda haruslah mendukung sebanyak mungkin usaha kristenisasi yang banyak di lakukan organisasi swasta. Dukungan terhadap kristenisasi belanda di pertegas sejalan dengan politik hutang budi; yaitu kemudahan bagi organisasi zending Kristen mendirikan sekolah bagi penduduk boemiputra – untuk sedikit demi sedikit melupakan agamanya (islam) dan kenudian beralih keagama Kristen.
Masalah krisenisasi di di Hindia Belanda ini erat juga kaitanya dengan maslah menghadapi pemberontakan yang dilakukan umat islam. Dengan mengkristenkan sebanyak munkin penduduk di nusantara maka pemberontakan akan semakin berkurang. Karena proses penjajahan, bahkan perluasan kolonial dan ekspansi agama merupakan gejala simbiose yang saling menunjang” (Suminto, 1985:18). Pemerintah belanda berpendapat bahwa apabila bangsa Indonesia ini memluk agama Kristen, yakni menjadi seagama dengan penjajahnya, maka berarti mereka tidak akan lagi membahayakan bagi pemerintah belanda.
Tetapi dalam kenyataanya, justru karena tekanan kegiatan misi penyebaran agama Kristen yang menggebu-gebu ini reaksi perlawanan dari rakyat Indonesia makin lebih militan lagi menentang penjajah belanda. Sehingga orang indonesia dalam menyebut orang-orang belanda sebagai “setan”. “kapir Landa".
Sebutan yang disamping menggambarkan kebencian mendalam juga menganggap mereka itu adalah musuh-musuh islam dan kaum muslimin.
Tidaklah mengherankan apabila orang islam yang mengirimkan anaknya untuk belajar sekolah di belanda, atau pun sekolah jawa/melayu yang didirikan belanda, sering di tuduh anak-anaknya masuk agama Kristen. Maka tidak jarang seorang kiyai atau seorang guru ngaji mengeluarkan fatwa bahwa memasuki sekolah-sekolah belanda adalah haram, atau bekurang-kurangnya menyalahi islam. Bahkan beredar fatwa yang menyatakan bahwa berpakaian ala eropa lebih-lebih memakai dasi celana pantaloon dan topi ala eropa dihukumi haram, dan pemakainya dikatakan kafir. Demikian juga dengan orang islam yang bekerja di kantor pemerintahan belanda, misalnya sebagai pamongpraja masyarakat mencemooh mereka sebagai “anjing belanda”.
Keyakinan yang memandang rendah semacam itulah yang mendasari sedikitnya penduduk asli banten yang bersedia bekerja menjadi pamongpraja pada masa hindia belanda keadaan semacam ini pun membuat pemerintah belanda mengalami kesulitan mengangkat pejabat pamongpraja asli dari banten yang cakap (baca:pernah belajar disekolah belanda).
Untuk mengisi kekosongan pegawai pamongpraja ini pemerintah kolonial lebih banyak mengangkat pegawai yang berasal dari priyangan, dari bogor dan bandung. Hal demikian sering menimbulkan klik-klik tertentu yang saling mencurigai satu sama lain yang hakekatnya berawal munkin dari irihati para pamongpraja asli banten kepada pamongpraja pendatang. Kekuatan yang di dasari ini pula yang menyebabkan pegawai asli prahiyangan yang ikut melarikan diri ketika pasukan jepang keluar dari banten. Imbas dari keadaan ini masi terasa sampai pasca kemrdekaan. Rupanya, walaupun memang kebanyakan rakyat banten bukan orang yang mempunyai pemahaman mendalam tentang ke islaman, bahkan mungkin bukan termasuk orang yang taat menjalankan agamanya, namun dalam hal rasa sentiment keagamaan mereka cukup tinggi.
Sumber :
Drs. Halwany michrob, Msc Catatan Masalalu Banten, Penerbit : Saudara,Serang 1993
Drs. A. Mudjahid chudari Catatan Masalalu Banten, Penerbit :
Saudara, Serang 1993

Post a Comment