Awal-awal masuk kuliah, tahun 2011, masih semangat-semangatnya, tapi sekarang juga masih semangat kok. hehehee...
Begini ceritanya, Selasa. 3 Oktober 2011 lalu ada kabar duka dari saudara kita di Kampung Tambleg, Desa Cidikit Kecamatan Bayah Kabupaten Lebak. Terdapat salah satu sekolah yang ambruk, karena bangunannya sudah tidak layak dan memprihatinkan. Peristiwa nahas ini terjadi sekitar pukul 16.00 WIB saat para siswa dan siswi di Madrasah Diniyah (MD) Al-Ikhlas sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar. Namun, bangunan yang baru dua tahun berdiri hasil swadaya masyarakat itu, tiba-tiba ambruk dan menimpa 46 siswa yang sedang belajar di empat ruangan kelas dan menewaskan satu orang murid. Mendapatkan berita ini saya langsung bergegas bergerak dengan teman-teman di BEM Fisip Universitas Serang Raya untuk menggalang bantuan di kampus.
Setelah dana terkumpul, 5 Oktober 2011, beserta teman-teman BEM Fisip Unsera bergegas menuju lokasi untuk memberikan bantuan hasil swadaya mahasiswa, dengan Mukhlisin selaku ketua BEM, Chakil, Putri, Neneng, Yudho dan Teh Eci, serta Babeh driver mobil kampus yang selalu setia mengantar kami kemanapun pergi. Jam 9.00 WIB, kita stay dari Kampus, melewati jalan Kkaujon kemudian Ciracas dan menuju Pandeglang dan meneruskan ke Lebak. Waktu begitu lama, perjalanan begitu jauh, kondisi jalan rusak. Jam 1 siang sudah masuk waktu dzuhur, Alhamdulillah kami sudah sampai Lebak, tapi nampaknya perjalanan masih jauhdi prediksisikan 3 jam lagi.
Sesudah Sholat, kita kembali melakukan perjalanan dengan kondisi perut yang lapar dan mual, akhirnya kami berhenti lagi di sebuah warung kecil di pinggir jalan, yang samping kanan kirinya berjejeran kebon sawit. Kami beristirahat dengan memsan beberapa mie instan untuk mengisi perut, dan berbincang dengan ibu penjualnya, kami sudah sampai Lebak tapi perjalanan masih jauh memerlukanm waktu 2 jam setengah lagi untuk mencapai lokasi tujuan kami.
Setelah selesai menikmati makanan dan mengisi perut akhirnmya kami melnjutkan perjalan, bersyukur alhamdulillah bisa menemukan jalan yang mulus dan bagus, setelah jalan yang sebelumnya kami lewati dengan kondisi parah dengan bebatuan, dan akhirnya ban mobil menjejaki aspal-aspal di Banten Selatan.
Kami terpukau termenung melewati indahnya pantai Banten Selatan (sawarna), tak terhenti melihat keindahan Pantai di Bayah (sawarna) jalanan-pun sepi dari kendaraan, hanya ada satu dua motor lewat, adapun mobil pengangkut batubara. Selain keindahan pantainya, Bayah juga menyimpan kandungan batubara.
Setelah melintasi jalanan yang menyediakan keindahan panatai, kami kemudian masuk ke kampung jalanan sempit naik turun berbatu dan berlubang, kami nikmati demi tercapainya bantuan ini, mobil pun sulit untuk masuk karena jalanan dengan tanjakan yang tinggi, terjal dan kecil, sulitnya melintasi Kampung ini. Kami bertanya pada salah satu warga sekitar “Pa untuk sampai ke tempat Kampung Cidikit perlu waktu berapa lama?” tanya kami. “ Kalo dengan mobil susah jalanannya sulit tidak akan sampai, kalo mau ngojek aja” Jawabnya. "Berapa pa kalo ngojek?" kami menanyakan lagi Jawab”80rb" Jawabnya singkat. kami terengang dengan harga ojek sampai delapan puluh ribu, kemudian kami berdiskusi dan menawar “50rb aja ya pa" tukang ojek tersebut langsung tidak menyanggupi, pada saat itu kami berniat untuk berjalan kaki, dan setelah diskusi kembali akhirnya kami memutuskan untuk ngojek dengan hanya delegasi 2 orang yang naik ke atas, kebetulan tempatnya naik gunung, memutuskan hanya Mukhlisin Ketua Bem dan Chakil yang menuju ke tempat, saat itu pukul jm 4 sore, sebagian dari kami urungkan niat untuk ke atas karena masalah finansial untuk membayar ojek, kami beristirhat di rumah warga setempat dan alhamduliliah kami di terima dengan ramah oleh warga, kami sholat ashar di rumah warga sambil tiduran bersistirahat, sejam berlalu menunggu dan menghubungi teman kami yang menuju ke tempat, handphone pun tidak aktif mungkin tidak ada signal, akhirnya teman kami datang dengan badan menggigil, mereka bercerita “subhanallah masih di beri kesempatan untuk hidup, perjalanan kesana sunggguh luar biasa, jalan setapak dengaan bebatuan, mungkin klo hilang keseimbangan sudah terjun ke bawah dan meninggal, sampai-sampai tidak sempat memotret kondisi jalannya" kemudian melanjutkan cerita "untuk kondisi di sana, masih memprihatinkan, darah masih berceceran di tempat, keluarga korban menangis waktu bercerita, keluarga meminta agar pemerintah segera membangun sekolah yang sudah rubuh, agar tidak adanya korban jiwa lagi.
Setelah ngobrol-ngobrol sejenak kami pamitan dengan warga yang kami singgahi untuk beregas pulang ke Serang, jam 5 sore pada saat itu, kami bergegas, kami berbincang di mobil, banyak cerita-cerita mengenai kondisi infrastruktur yang ada di Kampung ini, yang memang jauh dari kemajuan, setelah berbincang kami istirahat di mobil, kami tertidur dengan kondisi mobil yang sempit, akhirnya kami sampai kampus pukul 10 malam, setelah tadi keberangkatan pulang jam 5 sore.


Post a Comment