Menjadi tonggak perjuangan dalam sejarah mendirikan Kota Cilegon. Untuk mendirikan kota ini dan lepas lepas dari Kabupaten Serang. Terbentuk sejak 1999 setelah reformasi, Cilegon berdiri sebagai kota administratif. Kota yang berbtasan langsung dengan selat sunda atau paling barat pulau jawa.
Setelah umurnya yang ke 15, berharap Kota Cilegon menjadi kota yang makmur bagi kelangsungan hidup masyaraatnya. Dengan demikian, kota cilegon kota yang berbasis industri mampu menjulang ke kencah nasional dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Kota Cilegon yang berada di Provinsi Banten merupakani kota santri. atau secara religi dan history masyarakat Banten dengan perjuangan islam. Tentu masih ingat dengan berdirinya perguruan-perguruan islam di masa penjajahan. Seperti Al-Khairiyah dengan Kh. Syam’un dan KH. Wasyid. Dengan masuknya islam dan penyebaran di banten. . Ini gue sampaikan pada seminar dengan Kementrian Dalam Negeri di Sarikuring.
Demikian di atas mengenai pemahaman budaya yang harus dihidupkan. Selain budaya, ada beberapa point penting yang harus di jaga dan dilaksankaan oleh masyarakat, jika hal ini sulit untuk dilakukan dengan kecendrungan impor budaya yang tidak di filter, bisa membuat cilegon kota yang berbudaya terpinggirkan.
Kemudian, perjuangan masyarakat Cilegon adalah pemberontakan kepada serdadu belanda, peristiwa itu dikenal sebagai Geger Cilegon. Tentu sebagian masyarakat masih ingat menenai Film KH. Wasyid dengan Geger Cilegonnya pada tahun 1888. Film yang dibuat oleh kreamove picture ini menggugah masyarakat Cilegon untuk melek sejarah. Dengan demikian mampu mencintai daerahnya sendiri, seperti kata bungkarno JASMERAH (Jangan Sekali Kali Melupakan Sejarah). Walaupun masih banyak kekurangan dalam film tersebut. tapi mampu menyadarkan peristiwa bergejolak yang pernah lahir di Kota ini.
15 Tahun Kota Cilegon
[caption id="attachment_28" align="alignleft" width="600"]
Sejak lahirnya menjadi Kota administratif pada 1999. Lantas, bagaimana dengan pemerintahan dan kehidupan yang lainnya. ada beberapa usulan yang coba gue tuangkan mealui tulisan ini. Namun sebelum itu, gue sengaja menuliskan bab pertama mengenai sejarah dan budaya, karena punya alasan tersendiri terutama dalam judul.
Baik, coba kita lihat kemajuan Kota Cilegon dari segi pendidikan, banyaknya industri di sini mampu menyerap anggaran CSR (Corporate Social Responsibility) dan diprioritaskan untuk anggaran masyarakat melalui program-program Pemerintah kota.
Salah satunya menggratiskan biaya pendidikan bagi sekolah negeri di Cilegon khusus untuk tingkatan SMA, dan beberapa buku pun gratis. Dengan ini, berharap masyarkakat melalui pendidikan bisa meningkatkan SDM. Tentu, itu yang kita harapkan.
Setahun lalu, waktu gue baca bukunya @Pandji (Panji Pragi Waksono) yang Nasional Is Me. Membahas kecintaan terhadap Indonesia, dengan para prestasi pendidikan anak-anak Indonesia, tidak sedikit loh anak-anak Indonesia yang selalu menjadi the winner di negeri orang. Gue baca bab itu, begitu banyak nama yang tercantum, dan ada satu nama yang buat gue bangga. Disitu dijelaskan juara robotic di Amerika Serikat tertera nama Roodi. Setelah gue telusuri, ternyata Roodi ini orang Cilegon, tinggal di Ciwandan, dan dulunya satu kost dengan Om Gue waktu di Bandung. Sebetulnya masih banyak yang mempunyai prestasi di masing-masing passion tapi tak terpublish oleh media.
Sory, kalo di twitter gue @Nurcholis10 selalu mengkritik pemerintah Kota Cilegon, gue pribadi punya alasan untuk itu, tahun lalu, gue pernah di telvon polisi gegara mengkritik tentang pelayana public di kepolisian. Mengenai pembuatan SKCK. Apa yang terjadi, petugas kepolisian langsung nyari kontak gue di data dan menghubungi gue. Alhamdullillah dari kepolisian meminta maaf atas kejadian ketidak nyamanan. Selagi kita benar, so enjoy aja untuk mengkritik. Complain itu baik kok.
Pelayanan Public
[caption id="attachment_211" align="aligncenter" width="269"]
Yuk, kita bahas bagaimana pelayanan public di Kota Cilegon, Kota yang kita cintai ini ;
Secara konstitusi masyarakat perlu dilindungi melalui pelayanan public yang baik. itu sudah dijamin di Undang-Undang. Tepatnya tahun 2011 Kota Cilegon mendapatkan Wajar Dengan Pengecualian (WDP) atas Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dari Badan Pemeriksa Keuangan Provinsi Banten (BPKP). Artinya, secara transparasi secra keuangan kurang baik. Hasil LHP tahun ini belum gue dapat sampai tulisan ini gue publish.
Kalo kita perhatikan bagaiman pejalan kaki, hampir sepanjang trotoar tidak ada kenyamanan yang baik, penuh dengan PKL khas kesemrawutan kota dan trotoar sepanjang jalan prototkol tergolong kecil.
Selain itu, tidak tersedianya layanan masyarakat untuk mengajukan usul-usul, minimal Kotak Saran yang tertera untuk masyarakat.
Selanjutnya, website setiap SKPD pun tidak ada. Jika kita bandingkan dengan kota industri memang tidak seimbang dengan keterbukaan informasi yang kurang baik, dengan suudzonnya masyarakat, tidak mungkin SKPD tidak mempunyai anggaran atau gaptek. Minimal website yang aktif atau akun media social.
Negara yang baik ialah yang mempu memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakatnya” right? Yes, gue kira seperti itu. Tapi nampaknya terlalu jauh. Tapi jangan pesimis, yuk mari kita lakukan pengawasan.
Terlahir di Indonesia, senang membandin-bandingkan. Nah kali ini gue bandingkan Cilegon dengan Bandung. Secara pelayanan publik loh, bukan secara geografis. Bandung dengan Wali Kotanya yang baru, Ridwan kamil, coba follow aja @RiwanKamil yang selalu aktif menyampaikan informasi dan sangat aspiratif melalui akun pribadinya tersebut.
Kejadian-kejadian dilapangan, seperti Jalan lubang, banyak orang gila, di foto upload kemudian mention. Langsung ditindak lanjuti karena bersinggungan secara langsung dengan Walikota. Bahkan sampai setingkat kelurahan pun mempunyai akun twitter dan website untuk pelayanan publik yang baik. Memang secara backround Ridwan Kamil adalah seorang arsitek kelas dunia dan kreatif.
Ruang Terbuka Hijau
[caption id="attachment_208" align="aligncenter" width="259"]
Sebetulnya, gue sudah menuliskan di judul yang beda, tapi mengenai RTH ini menarik di tulis kembali, karena bagaimanapun ini yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Kota Cilegon. RTH atau Ruang Terbua Hijau sangat minim di Cilegon, dengan banyaknya industri tidak seimbang dengan keberadaan RTH. RTH yang berfungsi dengan baik berada di kawasan perumahan Krakatau Steel, Bapor atau masyarakat Cilegon biasa menyebut Jooging Track. Setiap hari minggunya tempat ini ramai, ada yang berlibur bersama keluarga, berjualan, olahraga, bahkan ada yang mencari jodoh. Karena kawasan ini sangat ramai, tidak sedikit yang menikmati keramaian kerindagan kawasan ini. Gue sendiri pernah sosialisasi bersama Ombudsman RI. Kalo yang belum tau Ombudsman, merupakan lembaga pengawas pelayanan public bisa di chek di www.ombudsman.go.id Bahkan, menjelang pemilu, kawasan ini tempat asyik untuk melakukan sosialisasi. Namun saying, aturan PT. Krakatau Steel melarang jualan ditempat ini mulai 17 mei 2014. Padahal, perputaran ekonomi kerakyatan bisa menembusa 400 Juta setiap minggunya.
Kawasan hijau ini hanya ada sedikit, rencananya Pemerintah Kota Cilegon akan membuat di beberapa titik. Kalo kalian tau eks pasar baru Cilegon di kec Jombang itu ada tanah yang entah akan dibangun RTH atau Alun-alun yang sampai saat ini terbengkalai. Dan yang paling ngga gue sukain setiap pembangunan di Kota ini selalu di Politisir. Pembangunan terbengkalai, kemudian tembok-temboknya di cat warna tertenu, sesuai partai apa yang lagi berkuasa di kota ini. Ndak gue sebutin pasti hafal kan.
Dari hal tersebut tentu kita mengetahui beberapa item dalam kinerja pelayanan public. Rencananya, gue dan rekan-rekan mencoba tetap mengawal bagaimana kepentingan masyarakat ini didahulukan. Gue juga dak tinggal diam dengan itu, untuk mencapai pelayanan public yang baik, perlu sinergitas antara masyarakat sebagai stakeholder, menggandeng Ombudsman RI gue lakukan untuk ini.
Mengundangnya dalam acara diskusi di Aula DPRD Cilegon tahun lalu, tepatnya tanggal 29 Juni 2013. Sebagai pembicara, hadir juga dari KPK. Bukan maksud untuk menyudutkan penguasa tertentu, tapi penyadaran masyarakat sebagai penerima pelayanan public harus dilakukan. Penyadaran mengenai hukum ini penting. Tujuannya masyarakat tidak lagi apatis, meskipun cara ini harus terus dilakukan secara berkala.
Berharap Politik Yang Baik
Apa yang kalian rasakan jika mendengar kata ini? Hhhee, tentu tidak semua suka. Why? Karena trackrecord para pelaku politik kita yang buruk. Tentunya kita hidup sebagai masyarakat social, Plato bilang Zoon political.
Manusia adalah binatang yang berpolitik. Dari kapan kita berpolitik? “sejak lahir”. Demikian adanya, lantas apa yang mesti kita lakukan. Gini, Negara kita ini menganut sistem demokrasi pancasila. Walaupun sudah kebablasan. Gue sendiri sebagai pemuda, mau gak mau harus berpolitik, jika tidak, kita selalu akan di bodohi oleh orang-orang politik. Gak rugi kok sadar politik, bukan berarti masuk partai politik yah. Malah bisa rugi kalo kita tidak sadar politik, ini jelas. Katakanlah apatis (Masa Bodoh), jika kita apatis, lantas para pelaku politik (politikus) itu melenggang enak menikmati uang-uang kita alias korupsi tanpa ada yang mengawasi. Karena masyarakatnya yang masa bodoh tentu menjadikan pengawasan semakin lenggang, inget loh, pernan masyarakat itu sangat penting untuk kelangsungan Negara kita.
Pembahasan diatas, sedikit uraian mengenai pandangan gue tentang pemuda yang harus melek politik. Bagaimana kondisi politik di Cilegon? Jujur saja, sewaktu gue dan rekan-rekan Cilegoon Creative mengadakan diskusi Anti Korupsi mengundang KPK langsung, lumayan tantangannya, mulai dari tempat yang tidak dapat dan di takut-takuti karena eks walikota tertangkap KPK karena korupsi pelabuhan kubangsari. Dan banyak yang mengira juga kegiatan tersebut titipan para elit tertentu untuk menyudutkan penguasa.
Ramai memang tahun lalu ketika atut tertangkap. Sebelumnya, Aat Syafa’atpun tertangkap oleh KPK. Ini memang zamannya reformasi, tapi para pelaku politik dengan mirip kekuasaan Orde Baru masih terlihat. Di banten memang iklim politiknya selalu adanya dinasti. Baik provinsi maupun kota. Dan penguasaannya ialah oleh partai kuning. Partai penguas pada zaman orde baru, benar saja tidak sedikit para pelaku korupsi.
Sulit untuk keluar dari kebiasaan ini, masyarakat masih apatis akan kehidupan politik. Dengan kata lain belum melek politik. Gue sendiri buat tulisan ini sebagai kado untuk ulang taun Kota gue ke 15. Complain itu baik. kritik itu baik jika membangun dan menyadarkan.
Berharap, untuk memajukan Cilegon, masyarakat sebagai stakeholder harus aktif untuk terus mengawasi, baik secara personal, lembaga dan non lembaga. Selamat ulang tahun Kota Cilegon. Kalo boleh usul, tulisan di logo itu diganti dari Akur Sedulur jujur Adil makmur menjadi JUJUR ADIL akur sedulur makmur.
Nurcholis

Post a Comment