Nelson Mandela berujar Pendidikan adalah Senjata Paling Ampuh yang Dapat Kamu Gunakan untuk Mengubah Dunia
Musim masuk perguruan tinggi sudah mulai, siswa/i SMA Sederajat se Indonesia berlomba-lomba mengikuti seleksi. Ada beberapa tahapan tingkatan nasional. Dengan SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Prguruan Tinggi negeri). Ataupun SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi negeri) . bedanya, seleksi SNMPTN dilalui dari nilai Ujian Nasional.
Kemudian, masuk PTN melalui bayak jalur setelah jalur dua tadi. Dan biasanya diserahkan kepada masing-masing perguruan tinggi.
Hal ini yang mempunyai problem dari awal, dengan kasus jual beli kursi. Tidak sedikit yang melakukan ini. Perasaan psimistis, karena tidak lolos beberapa tes di awal, kemudian ditawari oleh oknum-oknum tertentu untuk melakukan permainan atau membayar. Hal bimbang ini yang sedang goyah dan kemudian tidak kuat iman akhirnya melakukan jual beli kursi.
Tidak lama ini, saya mewawancarai mahasiswa perguruan tinggi negeri di Serang Banten. Inisial GS. Bercerita mengenai awal mulanya ia ditawari oleh oknum-oknum tertentu untuk masuk di Perguruan Tinggi tersebut. Awalnya, GS mengikuti bebrapa test, namun gagal. Kemudian tergoda dengan tawaran oknum tersebut. Lebih lanju berceita, ada uang gerbang masuk dengan jumlah fariatif. Nominalya, dari 3 juta sampai 8 juta. Tergantung favorit fakultas dan kuota.
GS sendiri, membayar sebesar 5 Juta, dengan jaminan uang kembali jika tidak lolos. Pengakuan GS, tidak sedikit yang masuk yang melakukan kecurangan ini. Yang satu sekolah dengan GS, hampir semuanya masuk dengan cara seperti ini. Hilangnya optimis untuk masuk perguruan tinggi, membuat mereka melakukan ini. Sehingga, awal masuk perguruan tinggi di nodai oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
Kemudain saya bertanya : kalau memang tidak ada yang nawarin (oknum) apakah akan mencari jalan ini?
“jujur saja, sebetulnya berat dihati setiap membahas ini. Kadang stiap diskusi mengenai mahasiswa selundupan, saya merasa dan saya terdiam. Walaupun saya sering diskusi dan aktif di organisasi, jika ingat hal itu, jujur saya menyesal”.
Wawancara ini berakhir singkat, saya rahasiakan namanya Karena perjanjian sebelum wawancara.
Hal ini yang kita coba sadari dalam dunia pendidikan, maslah yang sedang diselesaikan secara makro ataupun mikro tidak diimbangi penyelsaian di akar. Bahkan, GS mengakui, bahwa pelaku-pelaku oknum tersebut berada di dalam perguruan tinggi, artinya punya jabatan.
Anggaran 20% dunia pendidikan menimbulkan keselimut maslah. Cita-cita pendidikan Indonesia yang di rintis oleh Ki Hajar Dewantara belum teriimplementasikan dengan baik.
sebetulnya, harapan untuk anti korupsi sendiri dimulai dari pemuda, jika Soekarno pernah berkata dengan sepuluh pemuda akan mengguncang dunia, sulit rasanya jika mental pemudanya belum baik. mental ini di bangun dengan korelasi dalam system pendidikan indoneisa. Artinya, system akan membuat mental ciut. Indoensia yang digadang-gadangkan anti korupsi justru bobrok dari dunia pendidikan yang seharusnya, bisa meminimalisir maslah-maslah yang dihadapi bangsa ini.

Post a Comment