Provinsi Banten terletak paling barat Pulau Jawa, Merupakan Provinsi di Indonesia yang berdekatan langsung dengan Ibu Kota Negara indonesia, Jakarta. Ada delapan kota di Provinsi ini diantaranya, Kota Tangserang Selatan, Kota Tangerang, Kab Tangerang. Kab. Pandeglang, Kab. Lebak Kota Serang, Kab. Serang dan Kot Cilegon. Dengan keberagaman dengan masing-masing potensi di Kota, membuat penyajian pendidikan berbeda. Baik dari segi pendidik maupun fasilitas.
Kehidupan pendidikan sangat beragam, tentunya banyak ketimpangan. Baik dari pemerataan guru, kebutuhan buku atau fasilitas sekolah.
Surat kabar Daily Maily menyamakan aksi beberapa pelajar SD dan SMP di kampung Sanghiang, Tanjung, Lebak banten menyebrangi jembatan rusak Suangai Ciberang dengan salah satu adegan film Indiana Jones.
Kemudian, Data Badan Pusat Statistik menunjukan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di indonesia mengalami tren positif dari tahun ke tahun. Namun faktanya, angka Human Devleopment Index (HDI) indonesia masih stagnan dan jauh dari membanggakan. Posisi indonesia berada di peringkat 121 dari 168 negara. Menurut Education for All Global monitoring Report 2012 yang dikeluarkan oleh UNESCO. Provinsi Banten sendiri menempati urutan ke-23 secara nasional.
Akhir februari 2013, dalam program “101 East” yang berjudul “educating Indonesia”. Salah satu stasiun televisi berita internasional memberitakan buruknya pendidikan di indonesia, dan mengungkapkan pendidikan di indonesia seperti zaman batu di era globalisasi. Bahkan menurut pearson Indonesia peringkat terbawah bersama Meksiko dan Brasil.
Artinya implementasi Sistem Pendidikan nasional belum terlaksankan dengan baik. Padahal UUD 1945 pasal 33 ayat 1 mengatakan “Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan”. Dan di perkuat oleh UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dengan mengamanatkan 20% APBN/APBD di alokasikan untuk dunia pendidikan.
Dari sekian banyaknya problem mengenai implementasi pendidikan, hal yang substansial berada pada kualitas guru dan dan layanan pendidikan. Di Provinsi Banten, masalah tersebut di ungkapn kepala Dinas Pendidikan Provinsi pada pertengahan 2013. Dikutip melalui Media Banten.com Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten Hudaya Latoconsina mengatakan, secara umum partisipasi pendidikan di Provinsi Banten menuai perkembangan yang baik. Namun ia mengakui masih banyak anak usia sekolah dasar (SD) yang tidak sekolah mencapai 27.000 orang. SMP 7.000 Orang. Untuk tingkat SMA 620.000 di Banten 31,4% tidak sekolah. Salah satu problem yang menyebabkan ini karena lemahnya layanan pendidikan dan kualitas pendidik.
Kebutuhan tenaga pendidik yang baik dan profesional di Provinsi ini masih kurang. Tidak hanya itu, menurut saya mindset masyarakat mengenai pendidikan urgensinya cepat di benahi, melalui penyadaran pendidikan ke masyarakat.
Kebutuhan sekolah bagi masyarakat Banten tentunya untuk memberikan kontribusi yang positif bagi Banten. Dengan pemenuhan kualitas pendidikan, serta layanan yang baik. Dua hal yang di ungkapkan oleh Kepala Dinas Pendidikan jika terpenuhi, dan masyarakat sadar pentingnya pendidikan, maka pembangunan Sumber Daya manusia (SDM) dan peningkatan IPM lebih cepat terealisasikan.
Sebetulnya, Provinsi ini bak Satelit di atas bumi. Analoginya, bumi kehidupannya tidak berjalan normal dengan tidak adanya satelit. Bayangkan saja, pasokan kebutuhan di dalam pulau jawa dari Sumatera melalui provinsi ini. Bahkan supplay energi listik Jawa-Bali berada di Provinsi Banten PT. Indonsia Power. Industri baja. Pelabuhan dsb. Berada Provinsi Banten.
Bila saja sinergitas pemerintah dan masyarakat berhasil dalam dunia pendidikan di Banten, tidak menutup kemungkinan, masyarakat mampu memanfaatkan potensi-potensi yang ada di daerahnya masing-masing.
Penyadaran masyarakat dan penambahan tenaga pendidik profesional ini urgent untuk segera dilakukan. Namun, jika kita melihat birokrasi pemerintahan kita, terlalu lama menunggu dan menuntut itu. Butuh beberapa tahun dalam prosesnya.
Pernyataan Anies Baswedan pada Hari Pendidikan Nasonal lalu, melalui akun twitternya @Aniesbaswedan beliau mengatakan “Secara konstitusional pendidikan tanggung jawab negara, secara moral pendidikan tanggung jawab orang terdidik”.
Dari pernyataan Mas Anies ini tentunya menginspirasi setiap orang yang merasa terdidik untuk melakukan pendidikan di setiap masyarakat. Jika saja pemuda di Banten mempunyai jiwa tanggung jawab terhadap pendidikan, kemudian mengajar atau mengabdi di sekolah-sekolah untuk menginspirasi masyarakat serta murid-murid bagaimana pentingnya pendidikan, problem penyadaran pendidikan dan tenaga pendidik bisa terpecahkan. Ini merupakan salah satu solusi yang di tawarkan.
Selain itu, banyaknya Perguruang Tinggi di Banten bisa dimanfaatkan oleh Institusi tersebut dan pemerintah dengan bekerjasama pihak swasta yang sama-sama mempunyaai program pendidikan. Dengan menyebar para mahasiswanya ke peloksok-peloksok Banten. Tidak perlu menunggu Kuliah Kerja masyarakat (KKM), karena tidak substansial. Jika penyebaran itu merata dan berhasil, niscaya kesadaran masyarakat akan pendidikan lebih cepat terealisasi. Tentunya, mahasiswa yang disebar tersebut harus melalui tahap seleksi dan pelatihan terlebih dahulu. Supaya pencapaian di masyarakat berhasil.
Nelson Mandela pernah menyebutka : ”Pendidikan Merupakan Senjata Ampuh Untuk Memajukan Negara”. Dan Soekarno berujar : “Dengan sepuluh pemuda yang cinta negeri ini, akan ku guncangkan dunia”. Korelasi antara pendidikan dan pemuda menunjukan kekuatan untuk kemajuan negara dan kelangsungan hidup bangsa Indonesia.

Post a Comment