Masyarakat mulai berdatangan, satu,dua dan berikutnya mulai memenuhi tempat perkumpulan, tidak ada yang istimewa dari penampilan mereka, ada yang memakai celana jeans dengan style muda, sarung berkoko, bahkan celana pendek dengan kaos oblong, sambil memegang sebatang rokok ditangannya. Terlihat, sang empunya rumah menyiapkan jamuan, mulai dari air minum, sampai air berwarna, dan kopi tentunya.
Waktu menunjukan jam delapan lewat limabelas, malam hari. Masyarakat mulai duduk ditempat yang sudah disediakan, hidangan mulai dibagikan. Awalnya, masyarakat belum seluruhnya tau apa tema pembahasan malam ini. Hingga muncul dan bertanya. Malam itu, masyarakat Kubang Saron, Belungbang dan sekitarnya berkumpul untuk membahas problem lingkungan yang selama ini mereka kecam yang disebabkan oleh pabrik, namun tak sampai pada pelaku problem, demikian yang disampaikan oleh moderator.
Acara dimulai, moderator mulai membacakan susunan acara. Kemudian menyampaikan apa yang akan dibahas. Sedikit menyinggung mengenai organisasi lingkungan yang sudah terbentuk beberapa bulan belakang, dan saat ini merupakan bagian sosialisasi dan persetujuan serta pengawasan dari masyarakat. Kemudian, moderator memberikan waktu perwakilan AMPEL untuk mengulas asal usul dan sekilas mengenai organisasi tersebut.
"AMPEL merupakan Aliansi Masyarakat Peduli Lingkungan yang terbentuk atas kesadaran dan kondisi lingkungan yang ada di Kota Cilegon, khususnya Ciwandan. Terbentuk dari usulan masyarakat di 2 Kelurahan 1 Desa. Tegalratu, Banjarnegara dan Batukuda. Bersifat kolektif kolegial yang dipimpin oleh masing-masing kordinator kampung. Dan jika memutuskan sesuatu harus persetujuan kordinator. Meskipun ada pengurus harian kedepannya".
Disela pembahasan mengenai AMPEL, nampaknya masyarakat ingin langsung memberikan pendapat. Fauzul Umam, salah satu perwakilan pemuda memberikan pemaparannya : "Terimakasih moderator yang telah memberikan kesempatan, jujur saja, saya kecewa terhadap berdirinya organisasi-organisasi yang mengatasnamakan masyarakat, mayoritas di Cilegon wabilkhusus Ciwandan, Organisasi atau LSM itu awalnya saja yang manis, bahkan mengatasnamakan masyarakat untuk memperoleh keuntungan dari pabrik. Iya aja kontribusinya ada, boro-boro, malah transparansi saja tidak ada. Mereka mengajak demo ke pabrik, baik ketenagakerjaan maupun lingkungan. Namun selesai atas konsensus yang diberikan pabrik kepada petinggi LSM. Mou dari demo pun tidak dilaporkan kembali ke masyarakat, mereka mendapat projek dan stop disitu ga ada kabar. Giliran kontrak projek habis, mereka mengakali lagi supaya masyarakat demo. Kami semua ini traumatik atas LSM-LSM yang ada, semuanya mentah. Untuk itu, apa komitmen AMPEL dan bagaimana meyakinkan masyarakat bahwa AMPEL ini tidak sama dengan LSM-LSM lain. Dan juga jangan sampai AMPEL ini masuk ke ranah politik. Atau jangan-jangan ini juga bagian dari politik? terimakasih".
Para masyarakat nampaknya setuju apa yang dikatakan Fauzul Imam ini. Dan mayoritas meng-iyakan. Ada yang unik dari pertemuan ini. Nampaknya ada masyarakat yang siap untuk mengikuti, ia bertanya dan membawa bukti debu gram yang disebabkan oleh PT. Krakatau Posco yang kebetulan berdekatan dengan penduduk. Rohimi, pemuda asal Belungbang menyampaikan kekesalannya atas permasalahan lingkungan : "Dari dulu juga banyak LSM-LSM yang mengatasnamakan masyarakat, tapi semuanya kan mandul, selesai dikonsensus. Mendung sumbangsihnya jelas. Lha, mereka bisa beli mobil, hidup mewah, hedonis mengatasnamakan rakyat. Namun kontribusinya nol. Ini saya bawakan debu gram sebagai bukti. Kalo AMPEL bisa menyelesaikan masalah ini berarti hebat!".
Diskusi semakin menarik, karena masyarakat timbul kekritisannya. Perwakilan dari AMPEL memberikan penjelasan atas pertanyaan dari masyarakat : "Betul memang, banyak LSM yang bermain konsensus. Sebetulnya mudah saja kita berbuat demikian, buat LSM bikin legal formal dinotaris selesai. Tanpa mengedepankan pengakuan/legalitas dari masyarakat. Untuk ini, AMPEL melakukan sosialisasi dimasyarakat, jika sepakat ya lanjut, jika tidak ya sudah selesai. Keputusannya ada di masyarakat, karena sistem di AMPEL adalah kolektif kolegial yang memberikan legitimasi masyarakat. Nah, jika AMPEL ini nyeleweng dan terbukti mengecewakan masyarakat, ya bubarkan. Itu hak masyarakat.
Menghadapi debu gram PT. Krakatau Posco itu tidak mudah. Benturannya dengan Tentara, Polisi, Pengusaha, bahkan pemerintah sendiri. Karena mereka lebih mengedepankan ekonomi dibanding lingkungan. Analoginya gini, AMPEL ini punya sapu tapi harus menyapu ratusan hektar. Artinya, AMPEL terlahir bukan seorang Dewa, bukan pula The Avengers yang siap menyelesaikan masalah. Yang bisa menyelesaikan masalah itu masyarakat, nah disini wadahnya AMPEL. Kita semua bersama-sama. Untuk menghindari penyelewengan-penyelewengan seperti LSM (86) pengawasan masyarakat secara continue itu yang terpenting".
Diskusi terlus berlanjut, namun yang paling jadi sorotan ialah kekhawatiran masyarakat atas kesewenang-wenangan LSM untuk mendapat projek namun kontribusinya nol. Karena dapet projek tidak kritis lagi, idealis yang dibangun bersama tidak dirasakan masyarakat.
Usulan-usulan terus mengalir, dan ada yang mengusulkan terkait masalah lingkungan terkecil, ialah sampah rumah tangga. Bagaimana, sampah ini tidak terorganisir dengan baik. Hingga menimbulkan masalah juga. Dari diskusi mengenai sampah rumah tangga, munculah ide untuk membuat Bank Sampah. Karena dalam sistem Bank Sampah, bagimana biasanya membuang sampah mengeluarkan uang untuk membayar pengangkut sampah, namun dengan sistem malah yang membuang sampah bisa dapat uang. Yang usulan masyarakat, semoga AMPEL juga bisa berkontribusi dalam Bank Sampah".
Penulis : Cholis
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)
Designed by OddThemes

Post a Comment