Cholis
  • Home
  • Blog
    • Desa
    • Warga
    • Wisata
    • Politik
    • Resensi
  • Tentang

Home Warga Guru, Infrastruktur, dan Relawan

Guru, Infrastruktur, dan Relawan

Cholis November 27, 2015 0

[caption id="attachment_214" align="alignnone" width="620"]Teaching di SD Filial 1 Girijagabaya Kecamatan Muncang, Kabupaten Lebak. Teaching di SD Filial 1 Girijagabaya Kecamatan Muncang, Kabupaten Lebak.[/caption]


Ingarso Sung Tulodo Ing Madyo Mangunkarso Tut Wuri Handayani. Begitulah Ki Hajar Dewantara berujar. Apabila kita di depan hendaknya memberi contoh yang baik, bila ditengah bisa menengahi, dan bila dibelakang bisa mendorong ke lebih baik. Tut Wuri Handayani menjadi moto dalam pendidikan Indonesia. Dalam spesifikasinya mampu menciptakan pelajar yang mendorong kemajuan di berbagai bidang.

Di Indonesia, sejak kemerdekaanya pada tahun 1945, dunia pendidikan terus dikembangkan, dengan mengacu pada sistem pendidikan nasional dan kurikulum yang berlaku.

Menurut Education For All Global Monitoring Report 2012 yang dikeluarkan oleh UNESCO setiap tahunnya, pendidikan Indonesia berada di peringkat ke-64 untuk pendidikan di seluruh Dunia dari 120 negara. Data Education Development Index (EDI) Indonesia, pada 2011 Indonesia berada di peringkat ke-69 dari 127 negara.

Dari sekian masalah yang ada, tebesar ada di infrastruktur dan kualitas guru. Sekolah di Indonesia kualitas guru yang belum merata mash menimbulkan kesenjangan antara guru di Kota dan di Pedalaman.

Pandji Pragiwaksono, artis dan comedian dalam bukunya Nasional Is Me mengungkapkan kebimbangannya. Bagaimana kualitas guru kita? Apakah guru sudah diberikan “tanda jasa” yang sesuai? Apakah mereka sudah terjamin? Apakah mereka terpantau kualitasnya? Apakah kita bisa memiliki system yang menjamin bukan sembarang orang yang mengajari anak-anak kita? Mengingat guru adalah pekerjaan yang luar biasa penting, maka bahaya jika anak-anak Indonesia dipimpin oleh guru-guru yang tidak pantas.

Infrastruktur yang baik, juga membantu proses Kegiatan Belajar Mengajar bisa berjalan efektif. Pada acara bincang edukasi di Universitas Siswa Bangsa Internasional, menurut Suharti, PhD Bappenas sekitar 900 Kecamatan di Indonesia tidak memiliki sekolah menengah. Keterbatasan infrastruktur menjadi kendala bagi kemajuan pendidikan dengan rata-rata keterbatasan terdapat di daerah perbatasan dan kota-kot kecil.

Salah satu contoh ketimpangan di Pulau Jawa berada di Provinsi Banten yang notabene berdektan dengan Ibu kota negara, mempunyai masalah kelam di Dunia pendidikan. Infrastruktur yang buruk dan kualitas tenaga pendidik tentunya. Terdapat sekolah Madrasah yang roboh misalnya, menyebabkan satu siswa meninggal ditempat, lokasi sekolah ini terrdapat di Kecamatan Bayah Desa Cidikit Kampung Tambleg. Terjadi pada Oktober tahun 2011.

Kemudian, SD 1 Fillial Girijagabaya yang terletak di Desa Girijagabaya Kecamatan Muncang Kabupaten Lebak, juga mengalami hal yang sama mengenai Infrastruktur, kondisi yang tidak layak huni menjadi tempat keseharian murid-murid. Beratapkan jerami dan beralaskan tanah. Namun setelah beberapa komunitas mengunjungi dan mendokumentasikan sekolah tersebut dan dokumentasi diserahkan ke pejabat terkait di Jakarta akhirnya bantuan turun untuk merenovasi dan menambah ruang kelas.


Membangun Optimis Pendidikan

Pencetus Indonesia Mengajar Anies Baswedan mengungkapkan “Secara konstitusional mendidik tanggung jawab Negara. Secara moril mendidik tanggung jawab orang terdidik”. Seperti kata Nurcholish Madjid “Memanusiakan Manusia”. Inilah yang menjadi acuan bersama membangun pendidikan Indonesia. Melalui gerakan-gerakan secara massif pendidikan Indonesia.

Artinya, ketika kita mengetahui problem pendidikan di Indonesia yang buruk dan tidak baik dengan segenap masalahnya, tentunya peranan masyarakat begitu penting. Melalui komunitas pendidikan, atau pun secara pribadi. Misalnya Indonesia Mengajar, meskipun IM perlu seleksi ketat untuk masuk dan menjadi relawan di dalamnya. Juga 1000 guru yang memberikan bantuan ke pedalaman-pedalam Indonesia. Atau Kelas Inspirasi yang terbentuk di daerah-daerah di Seluruh Indonesia. Ini adalah salah satu conoth, meskipun banyak komunitas pendidikan yang ada di Indoensia.

Saya tertarik dengan cerita dari Butet Manurung, seorang Antropolog yang memberikan pendidikan kepada Suku Anak Dalam di Jambi. Dan di Filmkan oleh Mira Lesmana dengan judul Sokola Rimba.

Uraian terkait maslah pendidikan seharusnya menjadi penyadaran bagi kita semua. Sadar pendidikan itu penting, namun dengan sistem pendidikan kita yang carut maut menjadi asing dimasyarakat. Dengan demikian pemerataan pendidikan perlu dilakukan secara berkala dan continue.

Kinerja Kementrian dan Dinas Pendidikan perlu diawasi lebih lanjut oleh masyarakat sebagai Civil Society dan Stakeholder. Bersama-sama dalam membangun integritas dan kualitas pendidikan Indonesia demi tercapainya negara yang maju. Dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Indeks Prestasi Manusia (IPM).

Ada dua perspektif yang saya bahas diatas, mengenai keterlibatan masyarakat dengan sadar pendidikan, juga pengawasan terhadap pemerintah dan keterlibatan masyarakat untuk membangun pendidikan. Ada 20% anggaran APBN dan APBD untuk pendidikan, paling besar dibandingkan semuanya. Tapi bagaimana menjadikan anggaran itu maksimal, perlu pengawasan dari masyarakat, dari hulu ke hilir, dari pusat ke pedalaman. Tugas pemerintah meningkatkan kualitas guru dan memperbaiki fasilitas sekolah. Atau menaikan tunjangan-tunjangan guru.

Finlandia merupakan negara terbaik dalam segi pendidikan. Selain Korea Selatan, Inggris dan Japan. Selain sistem, pendidikan Finlandia, mendapatkan perhatian pemerintah cukup baik. Terutama kepada kesejahteraan guru. Bahkan, profesi guru disetarakan dengan dokter atau pengacara. Setelah mengajar, guru tidak lagi di repotkan oleh hal-hal yang bersifat ekonomis. Dan berfokus pada pengajaran terhadap murid.
Tags: Warga
Share:

Post a Comment

Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments ( Atom )
Designed by OddThemes

Sekilas

Dari Kampung, Ingin Belajar

Tertarik di kebudayaan, sosial, lingkungan dan pemberdayaan.

Kanal Saya

Powered by Blogger.