Pendeta Evorigulo dan pemuka agama Hindu, I Wayan Kandi saat menabuh beduh disaksikan KH Jhon Dien Ketua Satuan Tugas (Satgas) Toleransi Antar Umat Beragama Purwakarta (Foto : Tribun Jabar/Mega Nugraha)[/caption]Terdengar dari sudut ke sudut, dari kampung ke kampung, dusun, desa, hingga kota. Malam itu, adalah malam takbir yang dirayakan umat muslim Idul Fitri 1437 H. Anak-anak, bapak, ibu, kakek, nenek keluar rumah untuk mengikuti perayaan ini. Takbir keliling, pawai obor, pukulan bedug terdengar nyaring, dilakukan. Dihebohkan dengan kembang api.
Dibeberapa kota takbir keliling dilarang, alasannya keamanan, himbauan untuk merayakan takbiran dialihkan ke masjid-masjid saja. Meski demikian, tak sedikit yang teteap menggelar takbir keliling.
Purwakarta adalah salah satu Kabupaten yang menyerukan takbir keliling, uniknya takbir keliling di Purwakarta tak hanya diikuti oleh umat islam, pendeta Evorigulo dari Gereja Isa Al Masih Purwakarta dan pemuka agama Hindu, I Wayan Kandi mendapat kesempatan untuk menabuh bedug tanda dimulainya parade takbiran. Kerukunan antar umat beragama yang ditunjukan Purwakarta bisa menjai acuan untuk daerah lainnya, bagaimana keharmonisan, kedamaian, dan saling menghormati sangat terasa. Esensi fitri yang sebenarnya.
Senyum sapa, salam dan saling meminta maaf terasa sekali pada idul fitri ini, setelah sholat ied, dilanjut dengan khotbah, menerangkan kefitrahannya manusia setelah sebulan penuh menahan nafsu, baik makan, minum, nafsu dan lainnya. Keliling kampung, dari rumah ke rumah, menemui sanak keluarga, dijalan bertemu dengan siapa saja sudah pasti salaman, sambil megnungkapkan “lahir batin ya” sambil menunjukan senyuman yang ramah, dan bersahabat. Kita salami satu persatu, tak peduli kenal maupun tidak.
Membayangkan andai setiap hari hal ini selalu terjadi, sesama manusia saling memaafkan, saling senyum, salaman dan saling sapa. Betapa damainya dunia, betapa sejuknya islam, betapa indahnya saling mencintai satu sama lain.

Post a Comment