
Rabu malam, 22 Mei 2019, kabar bencana banjir bandang yang menerjang beberapa Desa di Sajira Kabupaten Lebak menghisasi group whatsapp relawan Indonesai Bangkit. Sebuah komunitas relawan yang terdiri dari lintas organisasi massa. Kabar tersebut diiringi sebuah video dan link berita nasional dan regional. Menurut informasi yang beredar, cuaca hujan terjadi pada sore hari, sekitar jam 4 sore. Hujan tersebut tak kunjung reda hingga akhirnya banjir bandang datang menjelang buka puasa. Menghancurkan rumah, jembatan dan tanggul aliran sungai. Banjir tersebut menerjang empat kecamatan yaitu Sajira, Sobang, Muncang, dan Cimarga, yang lokasinya di seberangi Sungai Ciberang dan Cilaki.
Menurut identifikasi Indonesia Bangkit, sebanyak 209 rumah terendam, 29 rumah rusak berat, 27 rumah rusak ringan, 28 pondok pesantren terendam, 16 pondok pesantren rusak ringan, 1 sekolah dasar rusak dan 2 majlis taklim rusak.
Banjir tersebut disinyalir akibat hulu sungai yang merupakan Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) rusak akibat banyaknya aktivitas di hutan yang tak terkontrol. “Artinya kan ada human erorr yang tidak kita ketahui, mangkanya kita akan koordinasi dengan pihak TNGH, jika ada penggundulan hutan agar tidak terjadi banjir dan bencana susulan di Lebak” Ujar Iti Octavia, Bupati Lebak, seperti dkutip laman kompas.com.

Salah satu rumah yang ambruk akibat bencana banjir bandang (Dok: Indonesia Bangkit)
Tergeser Oleh Berita Politik
Berita banjir bandang tak sampai ke masyarakat luas dan tak mendapatkan porsi viral di media sosial. Hal ini terjadi lantaran suhu politik Indonesia yang sedang memanas dengan adanya demonstrasi oleh pendukung pasangan salah satu calon presiden di beberapa lokasi di Jakarta diwaktu yang sama. Beberapa liputan di media nasional dan regional hanya sebatas lintasan tanpa mendapatkan perhatian. Berbeda ketika bencana lainnya di Banten, seperti Tsunami akhir tahun 2018 dan banjir bandang di Garung, Kecamatan Anyar pada 2016 pertengahan.
Bantuan dan penggalangan dana untuk bencana inipun minim, baik dari komunitas, lembaga maupun perorangan. Meski demikian, masih ada beberapa komunitas dan lembaga terjun ke lokasi bencana untuk membantu korban bencana tersebut.
Salah satu lokasi bencana berada di Desa Maraya Kecamatan Sajira yang meliputi kampung Kumpay, Cikoneng dan Dipunglu berada di lembah Gunung Pamuruyan, Gunung Angsana dan Gunung Batu. Kampung Kumpay merupakan tujuan saya berkunjung dipenghujung ramadhan untuk memberikan bantuan hasil donasi dari beberapa komunitas.
Pagi setelah salat subuh, bersama Dicky, seorang kawan bergegas menuju lokasi, berbekal sepeda motor buatan 2007, kami nekat melakukan perjalanan dari Cilegon, tanpa membawa STNK dan spion. Kabarnya, agak sulit bila kita menggunakan motor matic, karena kondisi jalan yang cukup curam untuk masuk kampung dikarenakan posisinya berada di lembah gunung.
Untuk sampai ke lokasi, kita bisa melintasi dari Rangkasbitung menuju Sajira dengan tenggat waktu +/-2 jam. Dalam perjalanan, hamparan sawit yang sudah tak berbuah begitu terlihat jelas. Banyak dahan yang jatuh menghiasi rerumputan di bawahnya, tanpa ada yang ngurus.
Melihat hamparan sawit, saya teringat sebuah film Asimetris, sebuah film documenter karya watchdoc yang menggambungkan kepentingan politik dan industri sawit dengan konflik agraria di dalamnya. “Apakah pengelola sawit di sini memiliki konflik dengan warga seperti terjadi di Kalimantan dan Sumatera?” saya bergumam.
Dalamm perjalanan, kami sempat kehilangan arah lantaran google maps yang kami gunakan cukup lamban karena fakotr signal. Kami memutuskan untuk bertanya pada penduduk setempat. “Sekitar 14 km lagi pak, kalo bapak lewat jalan sini, lebih dekat 7 km, tapi jalannya jelek. Kalo bapak ambi lurus nanti belok kiri, sekitar 14 km lagi jalannya lumayan bagus” kata lelaki pengguna topi bercelana pendek yang kami temui di pinggiran jalan.
Kami terpaksa mengambil jalan lurus, lantaran sebleker motor seharga 80 ribu sudah tak kuat lagi. “Bletak, bletak” begitu bunyinya kalo melintasi jalanan berlubang. Maklum berat saya dan Dicky kalo digabungkan hampri 180kg.
Dalam perjalanan, kami disuguhkan bentangan alam sawah dan gunung yang saling melengkapi, dibalut awan dengan terik matahari. Bersyukur, teriknya tak diiringi oleh panasnya suhu udara lantaran kesejukan di wilayah ini.

Jam 10.30 kami sampai di rumah sederhana milik Pak Owi, seorang guru honorer di sekolah dasar tempat relawan merancang agenda kerja. Di kampung Kumpay terdapat jambatan yang putus, tanggul rumah yang berbatasan dengan sungai mulai jebol. Kabarnya, setelah ramadhan warga dan relawaan Indonesia Bangkit akan bersama-sama gotong royong membenahi itu.
Suasana sejuk menghiasi siang itu. Tak ada panas terik dan polusi di seperti di Kota kami, Cilegon. Percikan air di sumur yang terus mengalir dari sumber yang disambung dengan selang selalu terdengar. Tanpa mesin.
Keluarga Pak Owi merupakan keluarga yang sehari-harinya mengabdi pada pendidikan di kampung Kumpay. Istrinya, saban sore mengajari anak-anak mengaji Al-Qur;an. Sementara kitab-kitab islam karangan ulama seperti Jurmiyah, Amil, Safinatunnaja dan Mutolaatul Jadidah diaji bersama ibu-ibu.

Setelah berbincang mengenai kondisi kampung dan perancangan kegiatan pasca lebaran. Kami ditawari untuk berkunjung ke Curug Cikumpay, 'Sebuah destinasi wisata yang belum terjamah.' begitu penjelasan Kompas Tv dalam liputannya tentang curug ini. “Perjalanan ke Curug sekitar 30 menit” kata Pak Owi.
Baru berjalan sekitar 10 menit, perut saya mual dan tubuh saya bergetar. Mungkin karena kondisi puasa. Jalanan menanjak yang membuat perasaan pengen balik lagi dan membatalkan perjalanan. Tangan mulai berkeringat, saya berjalan pelan, duduk lagi, bangun lagi, duduk lagi dan pengen minuuuum. Saya menelan ludah sering-sering dan berkata “Ya Allah, hauuuuss.”
Pemandangan sekitar dipenuhi sawah, gemercik air dari anak curug sangat bening. Ingin rasanya saya minum. “glkglkglk, sambil membayangkan air mineral kemasan yang berembun.

Setengah perjalanan dilalui, percikan air terjun mulai terdengar mengeras. Kami melintasi sisi sungai yang dibalut bebatuan. Hingga akhirnya, pemandangan curug Cikumpay terpampar di depan mata. Saya berjalan agak lambat, mengeluarkan hp dan memotret “cekrek." Niat ingin pamer melalui insta story gagal lantaran sinyal kosong “sial, ga bisa pamer, hahhahaa”.
Kami segera melepas kacamata, jam tangan, baju dan berganti celana. Lari ke air terjun, langsung kumur-kumur, “glkglkgk, semoga ga batal Ya Allah… huahaaaaaa syegaaarrrr. Hahhhaa. Semoga gak batal puasa”
Saya berendam, tengkurep, dan bertapa merasakan percikan air di tubuh. Rasa pusing mual hilang seketika. Kemudian berulang lagi, kumur-kumur, dalam pikiran semoga gak batal, karena air yang sengaja, eh tak sengaja masuk “hikhikhik”


Ecotourism
Untuk sampai Curug Cikumpay, dari perkampungan, kita harus jalan kaki melintasi pesawahan dan perkebunan sekitar 30 menit. Lokasinya tak terlalu jauh untuk dijamah. Saat perjalanan, saya takjub melihat pemandangan sekitar kampung tersebut. Sebuah Desa yang memiliki wisata alam potensial. Bagaimana tidak, air yang tak ada habisnya, keindahan curug, pesawahan dan perikanan.
Wisata alam berbasis edukasi atau ecotourism yang dikelola professional secara swadaya oleh masyarakat bisa menjadi pilihan yang tepat untuk mengelola Desa ini. Pasalnya, para pemuda di kampung ini bila sudah lulus SMA mereka selalu keluar Desa untuk mencari penghidupan yang lebih layak. Hal ini bisa diantisipasi bila wisata di Cikumpay bisa dijadikan objek wisata yang bisa menjadi basis ekonomi untuk pemuda di Desa.
Ada apa saja? Banyak. Dari segi pertanian misalnya, wisatawan bisa diajak untuk bertani. Ikut menanam besama petani, atau membajak sawah dengan kerbau setelah itu mandi di Curugnya. Atau misalnya, sebuah kelompok wisatawan yang hendak melakukan kapasitas building bisa bermain games di sawah.
Selain pertanian, perikanan bisa menjadi pilihan lain. Di bebrapa lokasi di Indonesia terdapat pertanian yang menggabungkan dengan perikanan. Sawah yang ditanami padi sekaligus ditanami benih-benih ikan. Saat ini, terdapat beberapa warga membuat kolam ikan di sawah. Namun masih hanya sebatas hobi. Wisatawan bisa diajak untuk memberi makan ikan, atau menebar benih ikan atau menikmati ikan darii sawah.
Selain wisata edukasi pertanian, perikanan dan alam, rumah-rumah warga harus digunakan sebagai tempat penginapan para wisatawan. Selain kebermanfaatan secara ekonomi, wisatawan juga harus diajak untuk menikmati suasana Desa dan berbaur dengan warga sekitar. Dengan catatan, rumah yang akan ditempati oleh wisatawan harus bersih dan nyaman.
Membutuhkan Proses Panjang
Dari mana anggaran pengelolaan?
Umbul Ponggok di Kapubaten Klaten bisa menjadi acuan. Kepala Desa berinisiatif mengelola Umbul Ponggok menjadi tempat wisata. Kolam yang jernir disulap menjadi tempat foto bawah air yang cukup apik. Dengan alat peraga motor, tv, sepeda dll, Desa ini berhasil mengelola dana Desa untuk membangun ekonomi komunal dengan penghasilian 14 Milyar selama setahun.
Untuk membangun ekonomi komunal melalui ecowisata, perlu waktu dan proses yang cukup panjang. Selain fasilitas lokasi, infrastruktur jalan dan promosi yang terpenting adalah kesadaran masyarakat untuk membangun ekonomi secara mandiri. Kesadaran untuk mengelola Desanya.

Post a Comment