Cholis
  • Home
  • Blog
    • Desa
    • Warga
    • Wisata
    • Politik
    • Resensi
  • Tentang

Home Wisata Ekspedisi Untuk Berbagi (Anak Krakatau)

Ekspedisi Untuk Berbagi (Anak Krakatau)

Cholis December 01, 2014 0

[caption id="attachment_263" align="aligncenter" width="300"]Cagar Alam Anak Krakatau Cagar Alam Anak Krakatau[/caption]

Waktu menunjukan jam 00, berkumpul di pelabuhan Merak. Aku hendak berangkat menuju pelabuhan Bakauehuni Lampung kemudian meneruskan ke Pulau Sebesi untuk ekspedisi Anak gunung Krakatau. Rombongan berjumlah empat puluh orang. Terlihat, Para peserta lain yang sudah datang sejak dua jam yang lalu terlihat tertidur, tak seikit

Sapoy dan Jak, ketua dari perjalnaan ini memanggil untuk meeting point, karena waktu sudah menunjukan jam 02.00 dini hari. Sedikit memberi arahan, dan berdo’a, tak ketinggalan kami berfoto bersama.ang saling menyapa, bersilaturahmi, berkenalan dan mengobrol. Menunggutiga orang lagi dari jakarta, dikabarkan sebentar lagi kami akan segera menaiki kapal, menyebrangi lautan Selat Sunda, ferry kini ku naiki.

Angin diluar kapal berhendus kencang. Selama perjalanan, aku mencari posisi yang nyaman, rombongan masuk ditempat VIP, aku mengikuti, meski pagi dini hari, tidurpun sulit. Aku memutuskan dengan kawan lamaku di trip yang dulu. Fachry, pria berkacamata menemani. Dengungan mesin kapal terdengar jelas, keybord untuk karokean tertutup rapat, kursi-kursi dirapihkan, terlihat tidak digunakan untuk menghibur penumpang.

Aku lihat jam ditangan, menunjukan pukul lima pagi, disekeliling para penumpang lain mulai terbngun dan bersiap untuk turun. Tak lupa membangunkan kawan-kawan yang masih terlelap tidur.

Jak dan Sapoy selaku panitia perjalanan ini tak terlihat, sudah hapir 30 menit kami menunggu, para peserta mulai mencari, cemas, karena tak terlihat batang hidungnya. Tak lama kemudian, sopir angkot datang menghampiri kami, mengabarkan bahwa Sapoy, Jak dan kawan-kawan panitia lainnya tertinggal dikapal, dan ketika dihubungi mereka terbawa ke kapal menuju Merak, tak sadar karena tertidur pulas. Hahahhaa, kejadian yang aneh. Untungnya, semuanya sudah dipersiapkan, mulai dari guide dan angkutan menuju Canti hingga penginapandiPulau Sebesi.

Satu jam perjalanan menuju Canti, gunung-gunung menjulang tinggi, diselimuti awan, embun-embun menempel disisi ilalang. Udara sejuk terasa, sawah-sawah terhampar luas, mobil melaju amat kencang, menyalip mobil-mobil besar. “Pak sopir, awas hati-hati, yang penting selamat” bilang ku padanya. Belokan demi belokan kami lewati, jalan mulus kami hadapi. Terlihat dari kejauhan sana, laut berhadapan dengan gunung, sungguh lukisan yang indah.

IMG-20141119-WA001

Setelah tiba di Pelabuhan Canti kami berkumpul untuk sarapan, persiapan untuk tidak mabok laut, brifing sebentar. Kami memulai perjalan menuju Pulau Sebesi, Pulau yang kami singgahi untuk bermalam. Selama perjalnan, kami memandang lautan luas, duduk diatas kapal, angin berhembus kencang, rambut terbawa kebelakang menyingkap.

Satu jam lebih melintasi sedikit perairan selat Sunda, berhenti di salah satu Pulau. Sebuku kecil namanya, pasir yang putih nan lembut kami injakan disini keindahannya tak tertandingi, bagus nan eksotis.

[caption id="attachment_254" align="aligncenter" width="300"]Pulau Sebuku Pulau Sebuku[/caption]

Setelah selesai menikmati pasir lembut nan putih, kami bergegas menuju Pulau Sebuku Besar, tidak jauh dari Sebuku kecil, melintasi lautan dan berhenti tidak jauh dari pesisir. Menikmati taman laut, ikan warna-warni serta terumbu karang. Satu, dua dan terhitung puluhan orang nyebur. Masker, kaki katak untuk snorkling aku gunakan, tidak luput pelampung untuk mengamankan bagi yang tidak bisa renang disiapkan. Namun sayang, arus yang besar membuat kami terombang-ambing ke kanan ke kiri, harus menguras tenaga lebih. Akhirnya, ku putuskan untuk menyudahi snorkling.

IMG-20141111-WA208

Waktu sudah siang, sekira pukul sebelas, kembali untuk berangkat menuju Pulau Sebesi. Diperlukan waktu sekitar empat puluh lima menit. Sesampainya disana, aku beserta rombngan menuju penginapan, namun sebelum itu, menikmatai makan siang yang sudah disiapkan oleh warga sekitar. Suasana pesisir, teduh dan angin sapoy-sapoy kami nikmati, sambil menyantap menikmati makan siang.

Rombongan terbagi menjadi empat penginapan, menginap dirumah warga, tujuannya, supaya warga merasakan hasil dari wisatawan, sebetulnya banyak penginapan seperti resort. Karena alasan tersebut kami bermalam dirumah warga. Disambut hangat, dan ramah.

Kebetulan penginapan tepat berhadapan dengan sekolah di Pulau Ini, SMP dan SMA Swadhipa namanya. (Swadaya Himpunan Pemuda) merupakan sekolah SMP dan SMA satu-satunya dipulau ini, terdapat satu SD negeri. Ketika berkunjung seorang guru menceritakan bagaimana kehidupan pendidikan di Pulau ini, muali dari anak putus sekolah, kesulitan dalam buku-buku sampai listik yang hanya ada pada jam enam sore sampai dua belas malam. Hanya saja pada malam minggu PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) menyuplai listrik sampai pagi hari karena banyaknya wisatawan. Diluar itu, masyarakat menggunakan jenset, jika tidak punya ya sudah gelap-gelapan setiap malam. Pada malam kami berkunjung, kebetulan PLTD dalam kondisi rusak, sehingga terpaksa menggunakan jenset. Terlihat beberapa rumah warga gelap tak ada lampu, hanya damar yang terlihat.

Pada saat kesana, sebetulnya ada tujuan lain yang ingin aku bagi, selain berwisata ke Anak Krakatau, aku membagi buku-buku mengenai Anti Korupsi yang kebetulan di suplai oleh KPK.

Mereka berharap, ada sumbangan-sumbangan buku-buku untuk sekolah ini. Hudriyah seorang guru disana mengatakan “Iya pa, kalo ada mah, buku-buku disumbangin untuk perpustakaan disini” berharap ada dermawan yang menghibahkan buku.

[caption id="attachment_256" align="aligncenter" width="169"]Berbagi Buku Berbagi Buku[/caption]

Kondisi kelas terbuat dari setengah bangunan, menjulang ke atas kayu-kayu kelapa berbaris menjadi tembok, lantai semen tanpa keramik terlihat berlubang. Namun keceriaan mereka tak hilang begitu saja, menyambut kami dengan hangat, dan senyuman. Menjawab salam dengan keras ketika aku mengucapkan salam.

Di luar kelas, rumput hijau terhampar luas, terlihat kerbau sedang menikmatinya, gunung terlihat jelas hijau diatas gunung menempel kabut putih. Pohon kelapa berbaris terlihat dengan indah.

IMG_20141108_130218

Siang akan berganti sore, melihat jam di tangan pukul dua siang. Kami hendak pamit, karena kondisi yang mulai mengantuk, akibat malam yang kurang tidur di kapal. Sebetulnya, sore ini rombongan ke Pulau Omang-omang untuk snorkling, namun aku putuskan untuk tidak ikut, beristirahat untuk persiapan besok, dikabarkan berangkat jam dua dini hari ke Anak Krakatau.

“Bu, pa, kami pamit dulu, untuk beristirahat” ucap, Fachry, Rudi dan Pak Zainal dosen ku yang kebetulan ikut.

“Nggih pa, hatur nuhun atas bantuan bukunya” ucap Bu Hudriyah

Kami bertukar nomor handhphone untuk jaringan komunikasi supaya lancar, akhirnya kami berpamitan. “semoga ada waktu dan rezeki, untuk aku bisa berkunjung lagi ke sekolah ini” ungkapku dalam hati.

Malam hari, Udara menyerpa, kulihat jendela sedikit terbuka, sekeliling masih terlelap tidur, waktu menunjukan pukul dua dini hari. tak lama kemudian, ketukan pintu trdengar, “tok,tok,tok” permisi om, “kreeek” pintu terbuka.. “Punten om, yuk siap-siap, kita berangkat menuju anak krakatau” ungkapnya dengan sopan. Ujar panitia yang membangunkan secara sopan

Aku bergegas ke kamar mandi, untuk segera cuci muka dan bersiap-siap, tak lupa alat snorkling aku bawa untuk menikmati bawah laut dan ikan-ikan cantik. Aku keluar, udara terasa dingin, kodok, jangkrik, dan angin subuh menyapa kami dengan lembut. Tak lama berjalan, ombak terdengar dengan jelas. Bruus, brusss, brusss. Fachry membuka senter, mengarahkan ke jalan, dan harap berhati-hati. Dari kejauhan sana, rombongan sudah terlihat menaiki kapal kayu. Nahkoda menyalakan mesin dan bersiap untuk berangkat.

Udara dingin khas laut kembali menyerpa, nahkoda mengendalikan kapalnya cukup berhati-hati, kondisi masih gelap, hanya lampu center yang menerangi kami, dari kejauhan sana, terlihat kerlap-kerlip lampu kecil tanda manuver kapal. Embun pagi di atas laut, jarak pandang yang terbatas, aku lebih memilih duduk dibelakang nahkoda, ada tempat sedikit dan cukup untuk merebahkan badan. Pejalanan semakin jauh dari dermaga, kondisi masih ngantuk, hingga akhirnya aku memilih untuk tidur, meski bunyi mesin sangat keras itu tidak mengganggu melawan rasa kantuk yang berat.

Aku terbangun, waktu menunjukan pukul lima pagi, nahkoda mulai mematikan mesin, aku mendengar gemuruh dari atas, subuh menemani, aku keluar dan berdiri di atas kapal, ternyata gemuruh yang terdengar begitu keras adalah anak krakatau, semburan asap putih samar-samar terlihat menjulang tinggi, pepohonan cemara yang rindang menghalangi pandanganku dari kapal untuk melihat jelas Anak Kraatau. “Semoga, status gunung ini tak berubah, dalam kondisi normal” Sebelumnya, guide bilang jika saat ini gunung masih normal dan bagus untuk dikunjungi. Tapi,jika statusnya berubah total, semoga kita selamat”. ungkapnya

Brosot, pria hitam tinggi sebagai guide dalam perjalanan kami, sibuk meminjam perahu karet kepada petugas Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSD Prov. Lampung) yang bertugas disini. Kondisi air masih pasang, kapal terlalu besar untuk mendarat di pasir hitam khas Anak Krakatau. Hingga akhirnya, kami dimuat satu persatu untuk sampai dan mendarat dengan baik.

Mata masih ngantuk, tak lupa air minum aku sisihkan untuk cuci muka, kondisi masih gelap namun tak gulita, senter kami persiapkan satu persatu, sebelum naik ke atas, kami brifing sejenak, dan tak luput untuk berdo’a, meminta keselamatan. Setelah brifing dan berdo’a selesai, kami bergegas untuk berangkat ke puncak Anak Krakatau.

Pohon cemara yang rindang, batang pohon yang menghalang, bunyi hewan-hewan terdengar seraya menyambut kami.

Senter dipancarkan ke jalan-jalan, hanya satu tapak, untuk mengusir rasa kantuk, tak lupa kami bercanda berjalan melintasi bebatuan kecil.

Dari kejauahn sana, Zax terlihat menjepretkan camera, hari mulai terang, dikit demi sedikit tapak demi tapak, kaki kami menginjakan di kaki Anak Krakatau, bebatuan kecil, waranya hitam.

Gurun hitam mengelilingi, sepanjang mata kami , kepulan asap menjulang tinggi, sayang, kami tak bisa menaiki. Ada dua bukit, bukti pertama untuk kami sampai dan menikmati Gunung Anak Krakatau, kedua merupakan bukit atau puncak yang tak bisa ditempuh dan dijejaki, berbahaya bagi para pengunjung, terlalu panas dan pasir hitam mudah runtuh jika kami pijak.

[caption id="attachment_258" align="aligncenter" width="300"]Di Puncak 2 Anak Krakatau Di Puncak 2 Anak Krakatau[/caption]

Perjalanan memerlukan tenaga yang ekstra, jalanan menukik, bebatuan besar bekas reruntuhan letusan terlihat jelas, aku berhenti sejenak, menarik nafas melintari mata memandang, gunung yang dikelilingi oleh lautan luas, angin menyerbang, pendakian pagi hari masih sejuk, keringat mulai menetes, aku usap dengan handuk kecil.

Sebagian rombongan sudah sampai atas, terlihat dari kejauhan, berkumpul untuk mengabadikan moment, mulai dari foto bersama, sampai selfie yang sedang trand tak ketinggalan mereka lakukan.

Aku mencoba melepas sandal, sengaja ini aku lakukan supaya bisa merasakan pijakan di pasir hitam khas gunung berapi. Menancap-nancap kasar, seperti relaksasi yang lembut, hingga akhirnya aku sampai di puncak Gunung Anak Krakatau, tak terlalu tinggi seperti gunung Salak, Gede atau pun Semeru yang mempuny tantangan untuk para pendaki.

Duduk di bebatuan besar, memandang jauh, ditengah laut Selat Sunda dan berdekatan aku lihat gunung Rakata, Sertung dan Panjang, awalnya mereka bersatu namanya Krakatau, namun setelah kejadian seratus lima puluh satu tahun yang lalu tepatnya pada   tahun1883, letusannya lebih dashyat dari bom atom, menimbulkan tsunami yang besar, Anyer, Pandeglang dan Cilegon terluap olehnya.

Satu jam aku habiskan di atas, sebenarnya ini kali keduanya aku berkunjung kesini, namun karena rasa kekurangan untuk berkunjung kesini, aku ikut trip lagi, selain mendaki gunung berapi aktif, snorkling menjadi salah satu tujuanku yang paling ingin aku lakukan. Rombongan berfoto bersama, masing-masing gaya, ada yang mulutnya di kedepanin, lebarin, pake jari satu, jari dua, sampai lima mereka bergaya. Aku berpikir, bagimana jika mulut mereka tak bisa kembali ke awal setelah berfoto dengan mulut bergaya-gaya. Lucu sepertinya.

IMG_20141109_054824

Memandang pulau panjang di sebelah timur, sembari menanti kehokian untuk mendapatkan sunrise, karena awan yang tebal, hingga akhirnya sunrise itu tak terlihat dengan jelas, hanya serpihan cahaya-cahaya yang memantul dibalik awan.

Perjalanan turun mulai aku lakukan, ahaaa, aku melihat satu pohon sendirian, kondisinya kering kerontang, nampaknya pohon ini sudah tak hidup, aku pun tak tau itu pohon apa, aku mendekat, berkenalan dan mengamati. Karena pohon ini sendirian anku beri nama pohon ini pohon Jomblo, hahahhaa, sesuai kan?

IMG_20141109_061518

Perut mulai memanggil, bak gendang dalam masjid, mulai lapar, aku putuskan untuk segera sarapan, sudah disiapkan dari Homestay untuk seluruh rombongan. Sungguh nikmat rasanya, meski hanya ditemani nasi uduk, telor dan tempe, aku menyantap dengan lahap, batang yang jatuh aku gunakan untuk tempat duduk, semut-semut kerangrang berwarna merah melintas menyaksikanku, aku tersipu malu pada semut merah yang berbaris di kayu. Loh, kok malah nyanyi lagunya Chrisye yah, ckckkckckck.

Kondisi badan berkeringat, ingin rasanya segera berenang dan menikmati taman laut, Lagoon Cabae namanya entah darimana asal usulnya, yang pasti tempat ini oke untuk snorkling. Berada dikaki Gunung/Pulau Rakata.

[caption id="attachment_261" align="aligncenter" width="300"]Di bawah pohon cemara Di bawah pohon cemara[/caption]

Nampaknya rombongan segera berangkat kesana, nahkoda mulai memainkan mesin, motor kapal khas laut mulai menyapa telinga, bertanda kami untuk segera naik. Ada yang menarik, dalam perjalanan ditengah lautan antara anak Krakatau Rakata dan Panjnang terdapat batu besar. Saksi bisu letusan seratus lima puluh satu tahun yang lalu. Ingin ku hampiri dan duduki, tapi napaknya sulit perahu untuk bersandar karena posisinya ditengah laut.

Empat lima menit berlalu, aku duduk diatas kapal, ikan-ikan hias terlihat jelas, ingin ku segera melompat, namun mesin urung dimatikan, aku paksakan segera melompat, tak lupa masker sebagai alat snorkling ku pakai. Satu, dua, tigaaaaaa loncaaaat, jebuuurrrr, air beralih ke atas, seger rasanya, setelah berkeringat langsung berenang. Dikit demi sedikit, karena terlalu nafsu sayang sekali aku menengguk air laut yang asin. Ueeek rasanya tak mengenakan.

Aku menaiki kapal kembali, untuk membetulkan masker dan minum, mulai satu persatu rombongan turun, memakai pelampung orange dan barulah aku ikut turun kembali. Ikan-ikan karang berwarna-warni mulai melintas, berkelompok dari yang kecil hingga yang besar, nemo terlihat begitu cantik. Sementara, ular laut berkeliaran aku putuskan untuk menjauh.

Ikan-ikan membuat godaan kembali, aku turun dan mulai berenang dengan tenang, woww, indaah betuul, aku gunakan nasi sebagai umpan supaya ikan berkumul. Yes, berhasil. Aku tertarik untuk menangkapnya, namun sulit, meskipun sudah ditangan ketika dikepal mereka agresif dan tak berhasil aku tangkap.

Aku terus berenang, mencari kawan-kawan yang membawa Camera under water, aku temukan Robert, remaja prawakan Korea ini kebetulan membawa, aku minta untuk foto diriku. Dan,jepreeet, foto Under Water ku berhasil. Ta lupa, Jak yang membawa Camera juga, aku minta fotokan aku, ckckkckc, keren juga ternyata.

IMG-20141111-WA224

Matahari mulai terik, kulit mulai merasakan, aku putuskan untuk menyudahi berenang dipinggiran laut, dibawaha pulau. Terlihat beberapa kawan pun demikian, lantai perahu mulai membasah,hingga kedalam.

Nahkoda mulai menyalakan mesin, bertanda akan membawa rombongan kembali ke Pulau Sebesi tempat kami menginap. Aku putuskan untuk duduk didepan, sembari memandang lautan luas.

Kapal mulai meluncur, menabrak ombak-ombak kecil yang mulai bergantian membuat gelombang hingga jauh. Seperti Titanic namun versi kapal kayu, Jak dan Ros berpasangan namun aku hanya sendiri.

Kapal kayu miring ke kanan, rombongan terlihat duduk disebelah kanan, sebelah barat. Maklum saja sebelah kiri matahari menyerbak, waktu menunjukan pukul sebelas Siang. Diperkirakan perjalanan sampai satu jam lebih tigapuluh menit. Aku pun berteduh, didepan kaca nahkoda, kebetulan terdapat tempat duduk. Rasa kantuk menyapa, hingga akhirnya aku terlelap bunyi kapal yang keraspun tak terasa.

Pelabuhan di Pulau Sebesi mulai terlihat, demi sedikit mulai jelas, bertanda perahu akan segera merapat, kerambah milik warga kami lewati, aku terbangun lima menit yang lalu. Rombongan turun satu persatu, dan langsung menuju homestay, dilain rombongan turis asing sedang menikmati makan siang, disisi pesisir, kebetulan ombakpun tak terlalu besar, angin sefoy-sefoy kembali menyambut, aku tak mau kalah aku urung kan niat kembali ke homestay, tak ingin kalah dengan turis asing aku bersiap untuk menyantap makan siang. Maklum saja, berenang membuat perutku berdetak kencang, memanggil dan meminta untuk diisi.

Rasa lelah terbayar sudah, berwisata di Anak Krakatau menyimpan ke eksotisan sendiri, mulai dari pulau-pulau di Selat Sunda hingga menemukan pohon Jomblo di Anak Krakatau hingga nemo-nemo cantik menyapaku. Tak ketinggalan aku berinteraksi dengan banyak warga Pulau Sebesi pulau berpenghuni yang paling dekat dengan Anak Krakatau. Masyarakat yang ramah, dan hasil bumi yang melimpah.
Tags: Warga Wisata
Share:

Post a Comment

Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments ( Atom )
Designed by OddThemes

Sekilas

Dari Kampung, Ingin Belajar

Tertarik di kebudayaan, sosial, lingkungan dan pemberdayaan.

Kanal Saya

Powered by Blogger.