SD Filial 1 Girijagabaya Ke . Muncang Kab. Lebak[/caption]"Ketika engkau jadi guru - seruet apapun masalahmu, bila bertemu murid-muridmu yang lucu, cerewet, unik, disitulah kebahagiaan ditemukan"
Nurcholis
4 Tahun sudah saya mengabdi, menjadi guru di Institusi. Tak dapat terbendung bahagia, senang, dan hingga saat ini. Hal yang paling menyenangkan ialah menjadi bagian dari mereka - murid-murid yang lucu, unik, nakal, bandel dan aktif. Kedekatan-kedekatan dilakukan, mulai di dalam kelas sampai diluar kelas. Kegiatan didalam kelas sangat terbatas dengan jam ajar, kegiatan diluar kelas bisa diakselerasikan dengan ekstrakulikuler.
Jika murid nyaman, sudah tak cagung, tidak menutup kemungkinan seorang murid untuk curhat masalah-masalah yang dialami. Mulai pertemanan sampai keluarga. Kenyamanan menjadi kunci disini.
Kemudian, dalam jam ajar dikelas, guru memang dituntut untuk inovatif dan kreatif, tujuannya apa yang akan disampaikan oleh guru bisa dipahami. Bisa menggunakan film, video inspiratif, atau diskusi aktif.
Saya pernah menerangkan mengenai UU dalam pelajaran Pendidikan Pancasila. Namun terlihat berat bagi mereka, terlihat pasif dan mengantuk. Untuk membuat kondisi aktif, terpaksa saya harus mengalihkan pembahsan kepada dunia arkeologi, cerita rakyat dengan dibumbui cerita-cerita lucu. Saat itu yang saya ceritakan adalah kunjungan ke Anak Gunung Krakatau serta sejarah dan mitos-mitos yang terjadi di masyarakat pasca letusan tahun 1883. Tersendat memang ajaran mengenai pemahaman UU. Namun ini mesti dilakukan, daripada cape-cape menerangkan namun murid tak paham. Mengajar ala Stund Up Comedy saya kira juga bagus. Saya belajar banyak dari Panji Pragiwaksono Comic yang selalu membahas nilai-nilai penting baik bangsa, pendidikan, dan masalah-masalah agama dibahas dengan rileks ala SUC. Dan ternyata itu lebih masuk dibanding menerangkan secara saklek dan monoton dikelas. Inovatif dan kreatif disini kunci. Lantas, bagaimana dengan guru yang sudah wataknya killer? Saran saya, dibanding murid anda tertekan dan tidak enjoy, lebih banyak sharing, bisa youtube atau baca-baca artikel mengenai karakter murid-murid anda. Bukan berarti saya menuntut untuk guru menuruti apa mau murid. Tapi, keberhasilan dan nilai ukur murid dan simbiosis mutualisme, mendapat feedback yang baik. Bukan berarti tidak harus bertindak tegas, dalam satu posisi, guru juga perlu untuk bertindak tegas.
Sebetulnya ada cara lain selain menerangkan dikelas, yaitu kunjungan langsung baik ke DPR RI maupun daerah atau ke lembaga negara untuk memahami UU. Kita tau, murid-murid lebih senang ber-eksperimen dibanding di dunia kelas.
Saya sering memanfaatkan waktu istirahat atau dijam kosong, dikantin, dimanapun, istilahnya merangkul. Dengan anak-anak untuk mengobrol, apa saja yang penting bermanfaat. Sharing, bercerita, dari situ juga ampuh untuk membuat anak-anak nyaman. Bahkan, anak-anak cendrung aktif, dan bercerita mengenai masalah yang dihadapi.

Post a Comment