Cholis
  • Home
  • Blog
    • Desa
    • Warga
    • Wisata
    • Politik
    • Resensi
  • Tentang

Home Wisata Wisata Perlawanan Di Pulau Tunda

Wisata Perlawanan Di Pulau Tunda

Cholis August 06, 2015 1

Sama halnya dengan Pulau-Pulau yang ada di Banten, Pulau Tunda tak luput dari eksploitasi pasir oleh imperialis perusak lingkungan. Laporan dari berbagi masyarakat yang tinggal di Pulau Tunda, menyatakan, memang sudah banyak perusahaan yang menambang.

Meskipun berbahaya bagi kelangsungan ekosistem alam, pemerintah Kabupaten Serang tetap mengijinkan eksploitasi pasir di wilayah ini. Sampai berganti-ganti perushaan, saya belum dapat informasi lebih lanjut terkait berapa perusahaan yang menambang dan dari tahun berapa. Yang pasti, ada dilema, antara masyarakat pro eksploitasi dan kontra eksploitasi.

Awalnya, mayoritas melakukan perlawanan, penolakan, melakukan aksi di Pemerintahan Kabupaten Serang, menggandeng NGO lingkungan, untuk menghentikan eksploitasi pasir tersebut. Namun berujung pada kegagalan dan tidak mencapai target.

Politik Devide Et Impera dilakukan oleh perusahaan penambang, pemahaman di arus bawah yang belum maksimal dalam pentingnya menolak eksploitasi pasir membuat idelisme warga semakin tergoyah.

Kompensasi menjadi senjata utama bagi pelaku eksploitasi untuk meneruskan penambangan pasir. Angka yang cukup mengejutkan saya dengar, minimal Rp. 800.000/orang setiap bulannya masyarakat peroleh dari komprnsasi tersebut. Bahkan, jika sudah akhir kontrak bisa mendapat Rp. 2.000.000/ orang. Hingga akhirnya, penolakan eksploitasi ini semakin lemah.

Meski demikian, ketika saya kesana, saya menemui masyarakat yang tetap menolak, memang sedikit, bisa dihitung dengan jari. Mereka melakukan perlawanan dengan mempromosikan wisata bahari yang ada di Pulau Tunda.

Pasca liputan Helo Paradise yang dibawakan oleh Budi Doremi dan Jenifer, kunjungan wisata semakin banyak, setiap harinya selalu ada, apalagi weekend dan libur panjang.

Wisata Pulau Tunda semakin hari semakin ramai, karena destinasi snorkling dengan coral yang masih asri menjadi promosi utama, hutan mangrove, pasir putih dan diving. Kenyamanan di Pulau ini juga karena aliran listrik yang mumpuni, siang hari menggunakan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) dan malam hari menggunakan PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Disel).

Kompensasi yang dilakukan oleh perusahaan sifatnya sementara, jika mereka sudah mengeksploitasi pasir di Pulau Tunda, dan akan pergi begitu saja, dan tidak akan memberikan kompensasi jika mereka tidak lagi menambang.

Eksploitasi pasir dan wisata sangat bertentangan, jika eksploitasi pasir ini tidak dihentikan dan akan berlanjut dengan perusahaan-perusahaan yang silih berganti, ekosistem lambat laun akan rusak. Berindikasi ikan-ikan akan semakin sedikit, sehingga para nelayan akan kesulitan mencari ikan, terumbu karang akan rusak dan wisatawanpun tidak akan tertarik kembali. Hingga akhirnya masyarakat Pulau Tunda akan sulit untuk mencari pendapatan di Pulau-nya sendiri. Pulau yang mereka tempati sejak lama.
Tags: Wisata
Share:

1 comment :

  1. dzikryleo05August 6, 2015 at 7:46 PM

    Mayoritas masyarakat di negeri tercinta kita ini masih membudayakan sifat "ngegampangin" bray. Alias ogah ribet. Tentang ekosistem alam rusak urusan nanti, yg penting ada/dapet kompensasi, "ah gampanglah itu, klo alam rusak, ya pindah". Setiap bulan cair cooy!! Wkwk

    ReplyDelete
    Replies
      Reply
Add comment
Load more...

Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments ( Atom )
Designed by OddThemes

Sekilas

Dari Kampung, Ingin Belajar

Tertarik di kebudayaan, sosial, lingkungan dan pemberdayaan.

Kanal Saya

Powered by Blogger.