"Dengan apa dirimu menyebrangi lautan? Berenang? Membuat rakit kemudian mengayuh sampai berlabuh, atau menunggu kapal yang waktunya agak lama?"
Menunggu kapal, dalam gambaran seperti kapal dalam film Titanic memang lama,meski mengumpulkan pundi-pundi rupiah namun lebih nyaman. atau hanya kapal sederhana sekedar tidak kehujanan tapi nyaman.
Bila memutuskan untuk menunggu, kemudian membuat rakit terlebih dahulu, dengan modal sedikit kemudianm mengarungi lautan. Sederhana, bila hujan kehujanan, bila panas terik ya kepanasan. Tak ubahnya dalam Film Life Of Pi. Dengan keyakinan penuh, sampailah daratan, meskipun cobaan yang menerpa di lautan sangatlah berat.
Berenang, membutuhkan waktu dan tenaga yang amat ekstra, bermodalkan tenaga, bertarung melawan ombak, sambil berharap ditengah jalan menemukan bekas-bekas kayu untuk bersandar, kemudian membawa daratan. Hanya bermodal keberanian, keyakinan pada Tuhan bahwa seseorang dapat melampaui cobaan itu, demi tercapainya tujuan daratan meski nelewati lautan hanya bermodal keyakinan Tuhan. "Tuhan pasti akan menolong"
Ketiga analogi inilah yang diungkapkan oleh kawan saya yang hendak menikah. Kapal, rakit dan tangan kosong menggambarkan pekerjaan yang ia alami. Bahwa ia nekat menikah karena menjalankan ibadah. Meski ia sendiri tidak mempunyai pekerjaan pasti.
Ia berfikir, bahwa ketika ia sudah berenang, dengan tangan kosong, meyakini dilautan tuhan akan mendatangkan pertolongan.


Uh syuuuka tulisannyaaa 😍
ReplyDelete